Menolak Lupa : Mengenang 13 Tahun Dibunuhnya Munir

MUNIR_FERDI (1)

Fotografer : Ferdiantio & Johannes

Menolak Lupa : Mengenang 13 Tahun Dibunuhya Munir

Oleh : Livia Ramadhani Aqmarina dan Veronica Maureen

Tepat 13 tahun silam Indonesia kehilangan aktivis hak asasi manusia (HAM), Munir Said Thalib. Kejahatan sempurna dilakukan untuk membungkam suara pria kelahiran Malang ini. Aktivis  HAM sekaligus anggota Dewan Kontras ini tewas dibunuh dalam perjalanannya menuju Amsterdam, 7 September 2004 lalu untuk melanjutkan studinya. Keberadaannya yang dianggap mengancam kelangsungan golongan tertentu membuat dirinya harus meregang nyawa dalam pesawat Garuda Indonesia yang dalam 2 jam akan mendarat di ibu kota Belanda tersebut.

Menolak lupa, dan merawat ingatan, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Rumpun Padi Universitas Kristen (UK) Petra mengadakan Pentas Kecil mengingat dibunuhnya Munir (07/09/2017). Dilaksanakan di dalam ruangan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), peringatan ini dimulai pukul 19.30 dihadiri oleh sivitas Universitas Kristen (UK) Petra.

Acara dibuka dengan penampilan sebuah lagu berjudul “Benih” karya Yap Sarpote, yang merupakan lagu sebagai peringatan akan Munir, Marsinah, Wiji Thukul, Udin, Salim Kancil, korban Tragedi ’98 dan setiap orang yang hilang atau dibunuh karena berjuang demi kebenaran, keadilan dan kemerdekaan di Indonesia.

“kapan kita terakhir kali menangis duka untuk orang lain?” Merupakan cuplikan puisi “Pertemuan Malam Tadi” Karya Marsetio Hariadi, yang dibacakan oleh Bramsetya Handi dan Naomi Victoria. Dramatic reading karya Seno Gumira Ajidarma dengan cerpen berjudul “Aku Pembunuh Munir!” sebagai tampilan utama dalam malam peringatan ini. Menghadirkan suasana khidmat serta teduh, membawa penonton untuk sejenak larut dalam kesedihan, dan mengingat.

“Tidak menjadi generasi yang lupa masa lalu,” ujar Marsetio. Tema yang diangkat memang telah lama berlalu, dan ini adalah sebuah kesempatan untuk mengingat, dan mengajak orang lain untuk mengingat. Dikemas secara apik dengan persiapan yang dapat dikatakan singkat – 2 hari – Teater Rumpun Padi mampu mengundang komentar positif dari penonton. Salah satunya, Devina, Program Studi Ilmu Komunikasi 2017 yang mengatakan bahwa tidak menyangka bahwa persiapan hanya dilakukan dalam dua hari saja, ia mengungkapkan kekagumanya mengenai pembawaan peran serta suasana yang dibangun mampu membawa penonton ikut merasakan.

“Ini adalah bentuk penghormatan dan solidaritas. Untuk merawat ingatan, dan memperpanjang umur perjuangan,” jelas Marsetio ketika ditanya tujuan diadakan aksi peringatan ini. Memang tidak berdampak secara kasat mata baik bagi kasus dibunuhnya Munir, maupun penonton sekaligus. Namun diharapkan semangat yang diberikan ini mampu sampai dan terlebih lagi membangun rasa empati.

About the author /


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *