Wisuda ke-73: Eksistensi Bukan Sekedar Formalitas

Fotografer: Evandruce Filbert dan Johannes S.

Wisuda ke-73: Eksistensi Bukan Karena Formalitas

Oleh: Alvin Ramasurya Wony’s dan Natania Wahyuni T.

“Hari ini kita yang menyandang status mahasiswa telah berubah menjadi seorang sarjana. Seseorang yang sudah menjalani proses kompleks dari awal hingga akhir yang Tuhan persiapkan untuk kita.” – Gerald Vidisa Jourdano, S. Kom., salah satu wisudawan.

Sabtu (03/03/2018), rasa bangga, haru, dan suka cita memenuhi Auditorium Gedung P2 Universitas Kristen (UK) Petra. Acara dimulai dengan perarakan senat UK Petra memasuki ruangan. Setelah menyanyikan lagu Indonesia Raya, Wisuda ke-73 kemudian dibuka Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M. Eng. selaku rektor UK Petra.

Setelah resmi dibuka, acara dilanjutkan dengan pembacaan firman Wahyu Pramudya. Wahyu meyadarkan kita semua, sebagai manusia kita masih memiliki banyak kekurangan. Akan tetapi, dari kekurangan tersebut kita harus mampu bersyukur dan mengandalkan Tuhan menghadapi masalah dalam hidup kita. “Acara ini bukan melulu tentang kesuksesan, melainkan supaya kita sadar, di tengah ketidakberdayaan, kuasa Tuhan Yesus dinyatakan atasmu,” ujar Wahyu.

Kemudian acara pun memasuki puncaknya, yaitu prosesi wisuda. Sebanyak 523 wisudawan dipanggil ke depan menerima map ijazah, pengukuhan Dekan Fakultas, dan jabat tangan dengan Rektor UK Petra. Tidak ketinggalan, penghargaan diberikan kepada mahasiswa yang meraih predikat aktif berprestasi dan cumlaude.

Pidato perwakilan wisudawan tahun ini disampaikan Gerald Vidisa Jourdano dari Program Studi (Prodi) Sistem Informasi Bisnis. Dalam pidatonya, pimpinan umum Pers Mahasiswa 2016-2017 ini mengingatkan kepada para wisudawan, menjadi sarjana berarti menjalani dunia yang sesuai passion kita dan menjadi bagian masyarakat.

Kemudian acara dilanjutkan sambutan Ir. Hary S. Listijo selaku perwakilan Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Petra. Setelahnya, disampaikan sambutan Rektor UK Petra. “Saya mengajak anda sekalian menyampaikan rasa terimakasih kepada orang tua kalian masing-masing dengan bangkit berdiri. Hadaplah ke belakang dan membungkuk tiga kali. Saat ini adalah saat yang tepat untuk mereka yang telah mendukung hingga hari ini,” ujar Djwantoro.

Seremoni memang tak sekadar formalitas. Ketika mahasiswa masih berani berbicara tak memerlukan wisuda, mungkin ia tak memikirkan bentuk bukti terimakasih atas pengorbanan orang tuanya seperti yang disampaikan Roni Anggoro, S.T., M.A., Kepala Biro Administrasi Kemahasiswaan dan Alumni (BAKA), “Kesan yang didapat orang tua  pada wisuda S1 akan berbeda dengan wisuda sarjana selanjutnya. Acara ini seharusnya menjadi momen bagi para wisudawan menyesal sekaligus mensyukuri banyak hal di masa lalunya. Acara ini berfungsi sebagai wadah membentuk komitmen, juga sebagai tugu peringatan bagi kita bersiap menghadapi kehidupan yang baru.”

Menilik pandangan Yonathan Said Marcos, salah satu wisudawan Prodi Manajemen Keuangan angkatan 2014, hal yang paling berat ditinggalkan di UK Petra adalah suasana kebersamaan yang sudah terbentuk. Yonathan mengaku, selama di UK Petra, dirinya banyak mengikuti kegiatan kepanitiaan. Dari sini, ia mendapat banyak teman yang  telah merubah hidupnya. Ia akan sangat menyayangkan, di mana kelulusan akan menjadi awal mula perginya individu-individu ini dalam menghadapi jalan hidup masing-masing.

Sedikit berbeda, Brian Tjiasmanto, wisudawan Prodi Desain Interior angkatan 2013. Nada kelegaan tersirat, dimana akhirnya wisuda yang ia nanti dari tahun lalu tercapai juga di tahun ini. Disebabkan kesalahan teknis pemutihan SKS masa itu, Brian jadi harus mengikuti kelas lagi setelah skripsi.

Ada pula tips dari wisudawan Kevin Cornelius, Prodi Teknik Sipil angkatan 2014, kepada mahasiswa yang mengalami kesulitan dalam dunia perkuliahan. Menurut Kevin, peralihan dari Sekolah Menengah Atas (SMA) menuju kuliah dan kuliah menuju dunia kerja merupakan salah satu tantangan terbesar dalam masa perkuliahan. Kevin berpesan, sebagai mahasiswa, kita harus tetap teguh dalam menjalaninya karena kita tidak sendirian dalam menghadapi perkuliahan ini.

Selamat pada para wisudawan UK Petra atas gelar yang memberi kesempatan lebih luas untuk berkarya. Jangan lupakan UK Petra sebagai almamater. Mau tidak mau, suka tidak suka UK Petra sudah menjadi bagian dari kita semua.

Pesan Roni kepada wisudawan, “Dunia kerja yang akan kalian hadapi bukan untuk cari uang saja. Tapi kerja, berkaryalah, sesuai jati diri yang Tuhan tanam. Percayalah nanti uang yang akan datang.”

About the author /


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Feature

Majalah Kampus di Ambang Keterpurukan
Posted in: Feature

Majalah Kampus di Ambang Keterpurukan Oleh: Veronica Maureen Sebanyak 1000 eksemplar majalah GENTA dicetak setiap edisinya yang seharusnya menjadi sumber pengetahuan baru bagi seluruh sivitas, tak terkecuali mahasiswa. Dan mungkin, sudut pandang paling tepat dalam menentukan keberhasilan pembuatan GENTA adalah dengan menilai sejauh mana informasi dan pengetahuan yang dituliskan mampu diterima oleh seluruh sivitas. Rendahnya […]

Read More