Soe Hok Gie: Guru Bukan Dewa dan Murid Bukan Kerbau

soe hok gie

Ilustrasi gambar: orangemagz.com

Soe Hok Gie: Guru Bukan Dewa dan Murid Bukan Kerbau

Oleh: Natania Wahyuni T

“Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa dan selalu benar. Dan murid bukan kerbau.”

Sudah pernahkan Sobat Genta membaca kutipan di atas? Kutipan terkenal yang dibuat tanpa rasa sungkan-sungkan tersebut dibuat oleh Soe Hok Gie. Bukan tanpa dasar seorang Soe Hok Gie berani mengungkapkan kalimat tersebut. Kita lihat sendiri bahwa masih sering terlihat sampai saat ini, dimana seorang guru berusaha membentuk siswa mempunyai pola pikir yang sama dengannya, yang dirasanya paling benar. Murid jadi tidak memiliki kesempatan untuk mengeksplor lebih lagi, dan merasa bodoh bila tidak mampu memenuhi standar yang dibuat gurunya sendiri.

Soe Hok Gie dulunya adalah seorang aktivis mahasiswa yang kritis. Kekritisannya sering ia tuangkan ke dalam bentuk tulisan. Tak hanya sekedar menulis, tulisannya sering terpampang di media massa, maupun dibukukan.

John Gustaf Reinhart Hermanus, S.T. yang merupakan salah satu dosen program studi arsitektur Universitas Kristen (UK) Petra pernah bercerita, bahwa Soe Hok Gie sempat kecewa dengan pers negara asing yang menyajikan berita-berita penuh kebohongan demi meningkatkan popularitas. “Pers Indonesia mempunyai tanggung jawab sosial, untuk mengkritisi isu politik. Bukan mengisi berita dengan sensasi yang diinginkan pembaca saja.” Namun kenyataannya,  pers Indonesia masa kini berbanding terbalik 180o dengan apa yang ia nyatakan di masa lampau. Berita yang kini disajikan memang pintar memasang headline-headline sensasional yang mudah membuat pembaca salah paham saat berkesimpulan. Alhasil, cyber-bullying menjadi masalah yang awam terjadi namun bisa memberi pengaruh buruk yang tak terduga. Karena itu kami sebagai pers-mahasiswa selalu berusaha memberikan informasi yang berintegritas demi mengembalikan tanggung jawab dan derajat pers Indonesia ke depannya.

Sosok Soe Hok Gie yang idealis dan haus akan kebenaran begitu dirindukan untuk tetap ada di Indonesia. Arus masyarakat tak pernah stabil, namun disitulah letak tantangan kita sebagai mahasiswa untuk tidak tinggal diam dan terus berfikir dan mencipta. Sehubungan dengan judul di atas “Guru bukan dewa”, sepatutnya kita tidak membatasi ilmu dan terus mengeksplor yang tidak diberikan dosen kita di kelas.

Paling tidak, suara kita yang menyerukan keadilan tidak mengingkari eksistensi kita sebagai mahasiswa, sebagai seorang pemuda, dan sebagai seorang manusia.

Lagi-lagi paling tidak, kita bukanlah mahasiswa yang lulus hanya membawa gelar dan ijazah tanpa esensi.

Kalau kita dan Soe Hok Gie sama-sama mahasiswa, lalu apa yang membatasi kita untuk menjadi teladan sepertinya?

Tagged with:     ,

About the author /


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *