Fight For Purity: Uncovering the Evils of Pornography

Fotografer: Celine

Fight For Purity: Uncovering the Evils of Pornography

Oleh: Alvin Ramasurya Wony’s

Kamis (24/5/2018) Pusat Kerohanian (Pusroh) dan Pusat Konseling dan Pengembangan Pribadi (PKPP) Universitas Kristen (UK) Petra mengadakan Veritas Seminar. Seminar bertajuk “Fight For Purity: Uncovering the Evils of Pornography” ini diadakan di ruang Audio Visual Gedung T.502 (AVT) UK Petra. Seminar yang membahas tentang bahaya pornografi dan pencegahannya ini mengundang Rudy Tedjalaksana, S.Th., M.K. sebagai pembicara.

Acara diawali pukul 17.00 dengan doa pembukaan oleh Master of Ceremony (MC). Setelah doa, sesi pertama seminar dibawakan Rudy dengan menjelaskan fakta bahwa tiga dari lima pernikahan berakhir sebelum tahun kelima dan 56% dari perceraian itu melibatkan pornografi. Rudy mengatakan bahwa dari fakta ini saja dapat kita pahami jika pornografi sangat berbahaya. Rudy juga menjelaskan bahwa Kitab Kejadian menggunakan dua istilah untuk menyebut pria dan wanita. Pada Kitab Kejadian pasal satu, Alkitab menggunakan istilah “zakar” dan “negebah” untuk menyebut pria dan wanita. Zakar dan negebah ini melambangkan kehidupan seks yang sebenarnya suci. Sedangkan pada Kitab Kejadian pasal dua, digunakan kata tuan dan nyonya Adam. Menurut Rudy, hal ini melambangkan pernikahan yang suci. Dari sini didapatkan, selain aspek pernikahan, aspek seks juga menjadi bagian dari manusia.

Setelah memaparkan fakta-fakta mengenai pornografi dan seks, seminar memasuki sesi kedua. Pada sesi kali ini, Rudy menjelaskan bagaimana pengaruh pornografi dan cara mengatasinya. Rudy mengatakan, pornografi bersifat progresif. Pada saat pertama kali terekspos pornografi, kita akan merasa cukup dengan melihat gambar-gambar saja. Akan tetapi, lama-kelamaan kita akan semakin meminta lebih. Menonton video porno, melakukan seks, dan kemudian melakukan seks dengan cara yang tidak lazim merupakan tahapan kecanduan pornografi menurut Rudy.

Rudy menjelaskan pula cara melepaskan diri dari jeratan pornografi. Pertama-tama, bangkit dan segera mencari pertolongan. Pada kebanyakan kasus, penyebab kesulitan lepas dari kecanduan adalah karena tidak ada bantuan dari pihak luar. Oleh karena itu, Rudy menyarankan mencari pertolongan dan menceritakan pergumulan yang kita hadapi secara terbuka. Setelah mencari pertolongan, kita harus mau mengakui masalah utama kita dan berdamai dengannya. Rudy mengatakan, banyak permasalahan pornografi yang ia temui bukanlah berasal dari pornografi itu sendiri, melainkan pornografi digunakan sebagai alat melarikan diri dari masalah-masalah kehidupan. Seseorang yang ingin melepaskan diri dari jerat pornografi harus mau mencari masalah yang ia hadapi dan berdamai dengan masalah itu sehingga tidak perlu terjerumus dalam pornografi.

Setelah mendengarkan penjelasan Rudy, acara dilanjutkan dengan sesi talkshowTalkshow dipandu MC sebagai moderator dan mengundang Rudy dan Dra. Lanny Herawati, kepala PKPP, sebagai narasumber. Pada sesi kali ini, peserta dapat mengajukan pertanyaan kepada kedua narasumber. Pertanyaan dapat ditanyakan langsung dengan mengangkat tangan atau dituliskan di atas secarik kertas dan nantinya akan dibacakan oleh moderator. Berakhirnya sesi talkshow juga menandai berakhirnya Veritas Seminar kali ini. Bagi Sobat GENTA yang masih memiliki pertanyaan atau tidak sempat datang ke Veritas Seminar, bisa menanyakan pertanyaannya di Veritas Q&A yang akan diadakan pada tanggal 30 Mei 2018. Jangan lewatkan kesempatan ini karena Veritas Q&A ini adalah yang terakhir untuk semester genap tahun 2018!

About the author /


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Feature

Majalah Kampus di Ambang Keterpurukan
Posted in: Feature

Majalah Kampus di Ambang Keterpurukan Oleh: Veronica Maureen Sebanyak 1000 eksemplar majalah GENTA dicetak setiap edisinya yang seharusnya menjadi sumber pengetahuan baru bagi seluruh sivitas, tak terkecuali mahasiswa. Dan mungkin, sudut pandang paling tepat dalam menentukan keberhasilan pembuatan GENTA adalah dengan menilai sejauh mana informasi dan pengetahuan yang dituliskan mampu diterima oleh seluruh sivitas. Rendahnya […]

Read More