Apa Kata Mereka? : Mahasiswa Baru 2017

Apa Kata Mereka? : Mahasiswa Baru 2017

Oleh: Clarita Ivonne

LKMM-TD KE -28 telah resmi berakhir! Usai sudah perjalanan dalam menempuh proses belajar dalam hal keterampilan berorganisasi. Tentunya selama proses tersebut terdapat berbagai macam kejadian. Entah kejadian unik antar panitia semasa menjalankan tugas di LKMM-TD, maupun antar mahasiswa baru. Penasaran apa saja ceritanya? Nah, artikel Apa Kata Mereka? akan menjawab pertanyaan ini! Artikel ini terdiri dari dua edisi. Dari sudut pandang Mahasiswa Baru (Maba) 2017 serta dari sudut pandang Panitia sekaligus pemandu. Oke then, check it out!

Christina Kesya Y. / D11170299 / Manajemen Bisnis

LKMM-TD KE-28 itu …. Daebak!

Bagi Kesya, LKMM-TD ke-28 meninggalkan kesan yang indah. “Pemandunya asik-asik, kalau misal mau tanya-tanya itu jadi ga sungkan” jelasnya. Ia merasa mendapatkan banyak pelajaran mulai dari pembuatan proposal hingga etika berkomunikasi yang benar. Hal yang paling ia ingat adalah perkataan yang ia dapar selama sesi bahwa manfaat dari kegiatan ini mungkin terasa dikemudian hari, bukan saat ini juga. Hal unik lain juga terjadi selama Kesya mengikuti LKMM-TD. Semua anggota kelompoknya perempuan! Tapi meski tidak ada anggota laki-laki, hal ini dapat dimanfaatkan sebagai keunggulan kelompok. Apalagi dalam hal berdebat, karena anggotanya berisi perempuan, mereka semakin aktif dalam menyuarakan pendapat. Dibalik semua manfaat yang sudah Kesya terima, ia juga salut dengan panitia yang sudah menyiapkan seluruh rangkaian acara. “Panitianya sangar , sempat terfikir kadang itu mungkin ada banyak celah buat resiko, tapi panitia itu bisa nangkis semua itu degan kesolidan timnya dan profesionalitasnya” ungkapnya kagum atas kinerja panitia.

Ariel Moses Kurniawan / F11170060 / Ilmu Komunikasi

LKMM-TD ke-28 itu… Informatif!

Mahasiswa yang mengikuti LKMM-TD shift ke-2 ini merasa LKMM-TD membantu mahasiswa/i dalam merancang kegiatan. Yang awalnya tidak paham bagaimana harus memulai, kini sudah mengerti. Acara ini sekaligus acara yang membekali dirinya sebelum bergabung dengan panitia maupun organisasi. Pemandu pun dinilai menarik, ramah, dan menguasai materi yang disampaikan. Meski materi yang disampaikan cukup banyak, Ariel merasa materi yang ada mudah dimengerti. Selain membahas mengenai materi, nampaknya faktor kelompok yang aktif memberikan nilai tambah dalam menjalani proses selama LKMM-TD. “Gila! Seru, kreatif, sering tertawa” ungkapnya saat diminta mendeskripsikan kelompoknya di LKMM-TD. Harapan kedepan, semoga LKMM-TD semakin inovatif lagi dalam peyampaian materi agar Maba angkatan 2019 dapat menikmati LKMM-TD layaknya ia menikmati acara ini.

Charaqua Vania Rawiadji/ A11170017/ English for Creative Industry

LKMM-TD ke-28 itu… Wonderful!

Setelah mendapat kesan pesan dari mahasiswa fakultas ekonomi dan ilmu komunikasi, mari melihat kesan dan pesan dari mahasiswa fakultas sastra. Charaqua mendapatkan inspirasi dari pemandu yang bertugas di kelasnya. “Mereka bisa relate sama keadaan kita yang awalnya malas-malasan dan terkesan terpaksa, dan mereka akhirnya juga dapat membuat kita jadi tertarik untuk setidaknya mencoba ikut kepanitiaan.” jelasnya saat ditanya. Ia pun mengaku panik saat mengetahui bahwa kelompok LKMM-TD terdiri dari beberapa anak dari berbagai jurusan. “Saya panik karena saya merasa susah beradaptasi dengan orang-orang baru” katanya menjelaskan. Tapi kepanikan itu pun perlahan hilang seiring berjalannya waktu. Secara keseluruhan ia menikmati acara ini, dan menghargai seluruh kinerja panitia. Dekorasi yang digunakan di Auditorium juga meninggalkan kesan tersendiri bagi Charaqua, terutama dekorasi saat Opening Ceremony. 

Theodore Lilin/ B12170101/ Arsitektur

LKMM-TD ke-28 itu… wkwk!

Last but not least, kesan pesan datang dari mahasiswa fakultas teknik sipil dan perencanaan! Sebagai peserta ia meyakini bahwa acara ini memiliki manfaat yang pastinya berguna dimasa mendatang. Secara teknis, ia berpendapat bahwa panitia telah melakukan yang terbaik. Meski ia merasa peraturan di LKMM-TD masih terlalu ketat. LKMM-TD memang sering disebut sebagai WGG yang ke-2, sehingga kesan peraturan yang mengekang masih terasa. “Peraturan jangan terlalu ketat walaupun sudah lebih longgar dari WGG” ujarnya berkomentar. Melihat dari satu kata yang ia lontarkan untuk menggambarkan LKMM-TD ke-28, nampak Thedore berhasil melalui proses yang panjang dan mendapatkan pembelajaran baru mengenai organisasi. Ia pun mengaku tertarik untuk bergabung dengan Lembaga Kemahasiswaan yang ada di Petra.

 

Wah, semoga beberapa tanggapan dari empat mahasiswa juga dirasakan oleh peserta yang lain, ya. Tidak ada proses yang mudah, semua pasti memiliki rintangan. Namun, tidak ada hasil yang terbaik tanpa proses yang terberat. Selamat berproses di lapangan yang sesungguhnya!

About the author /


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Feature

Majalah Kampus di Ambang Keterpurukan
Posted in: Feature

Majalah Kampus di Ambang Keterpurukan Oleh: Veronica Maureen Sebanyak 1000 eksemplar majalah GENTA dicetak setiap edisinya yang seharusnya menjadi sumber pengetahuan baru bagi seluruh sivitas, tak terkecuali mahasiswa. Dan mungkin, sudut pandang paling tepat dalam menentukan keberhasilan pembuatan GENTA adalah dengan menilai sejauh mana informasi dan pengetahuan yang dituliskan mampu diterima oleh seluruh sivitas. Rendahnya […]

Read More