Page 12 - GENTA 201
P. 12

Guratan Pena I



           Langkah yang Tak Sendiri


                             Penulis Cliff Jevond Audoric Hakim
                            Ilustrator Caitlin Francis Nauli Siregar



                     Di luar, angin membawa ragu
                    Teringat seberkas pilu di batas senja
                      Aku berdiri menentang ragu,
                  menatap pintu yang terus memanggilku                                              Lalu, kudengar namaku terpanggil,
                                                                                                       “Masuklah, kau tak sendiri.”
                     Ada ruang yang hangat di sana                                                Halusnya bak buaian angin di pagi hari,
                   Suara-suara menyulam perlahan cerita                                            Yang tak berniat menggenggam paksa
                    Tapi, aku? Hanya bayangan prahara
                    Berdiri di ambang, tak berani bicara                                            Mereka tak menoleh dengan tanya,
                                                                                                    atau bahkan ‘tuk sekadar basa-basi
                     Tawa mereka memenuhi udara,                                                       Mereka ada seperti lakara²,
                       menjalin kisah hingga dalu¹                                                  menanti jiwa yang ingin singgah jua
                    Bagaimana jika aku terasingkan?
                    Atau jika tawa itu bukan untukku?                                              Maka, kubiarkan langkahku menepi,
                                                                                                     menyusuri ruang-ruang yang asing
                                                                                                  Langkahku rapuh, tapi tetap menajam,
                                                                                                   menuju cahaya yang menganggapku ada
                                     Puluhan pintu pernah kuketuk,
                                    namun engselnya tak pernah berderit                                  Perlahan aku tersadar
                                    Aku hanyalah debu yang terlupakan,                            Mungkin rumah bukan sekadar dinding,
                                   lalu pergi tanpa tinggalkan jejak setitik                        tapi hati suci yang siap melingkupi,
                                                                                                  setiap jiwa yang rindu kehangatan rumah
                                     Saat kaki ingin melangkah maju,
                                       Hati enggan untuk percaya
                                    Inginku hanya rumah yang abadi,
                                      Tempat rindu berlabuh di batin

                                   Dulu terpikir sukmaku sudah cukup,
                                       tak perlu suara lain di dada
                                   Namun, sunyi terasa begitu mendekap,
           ¹ Dalu: larut malam      menggema tanpa jeda, tanpa makna








        12 | GENTA
        12 | GE NT A
   7   8   9   10   11   12   13   14   15   16   17