Perankan Sebuah Kisah yang Membuka Hati dan Pikiran dalam Pentas Studi Teater

Fotografer: Jeremy S.K.

Perankan Sebuah Kisah yang Membuka Hati dan Pikiran dalam Pentas Studi Teater

Oleh: Eugenio

Jumat (01/03/2019), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Rumpun Padi kembali mengadakan Pentas Studi di Auditorium Universitas Kristen (UK) Petra. Pentas terbuka ini mengambil tema “Rumah Kita” untuk penampilan tahun ini. Tema kali ini ingin menunjukkan bahwa UKM Teater Rumpun Padi bukan hanya sekadar UKM namun juga merupakan sebuah keluarga.

Maichel Korompis selaku pimpinan produksi, memiliki harapan besar agar penonton dapat terinspirasi untuk menjadi seniman yang baik. Ia juga mengharapkan agar mereka dapat menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Pentas studi dibuka dengan penampilan drama “Setinggi Langit” karya Chili Bethari yang disutradari oleh Yosafat Agung. Sebuah kisah yang menceritakan seorang tukang sol yang disadarkan tentang apa arti cita-cita yang sebenarnya kepada sang anak.

Kemudian dilanjutkan dengan Naskah “Dukun-dukunan” karya Putut Buchori yang disutradarai Betari Gita. Pada naskah ini diceritakan budaya-budaya yang sering muncul pada masyarakat. Misalnya budaya bahwa seorang istri harus patuh pada suaminya. Juga diceritakan mengenai seorang anak yang pura-pura sakit agar ia tidak dijodohkan oleh orang tuanya. Tujuannya adalah agar penonton paham bahwa kekerasan pada istri merupakan hal yang salah dan paksaan bukan solusi yang tepat untuk memberikan masa depan yang baik bagi anak.

Tidak hanya drama saja, Pentas Studi UKM Teater juga dilengkapi dengan pembacaan puisi. Puisi berjudul “Pelacur-Pelacur Kota Jakarta” ini berupaya untuk membuka mata kita bahwa pelacur menjalankan hidup mereka bukan karena rasa keinginan, namun merupakan sebuah keterpaksaan dan masa lalu yang buruk. Jadi tidak seharusnya kita hanya menghakimi kondisi mereka yang sekarang, namun juga belajar untuk memahami mereka.

Pentas Studi pun ditutup dengan pertunjukan sebuah naskah yang berjudul “Malam Terakhir”  karya Marsetio Hariadi yang disutradari Chili Bethari. Drama ini mengisahkan sebuah kampung prostitusi yang digusur secara sepihak oleh pemerintah yang hanya melihat sebelah mata terhadap warga yang tinggal di sana.

Tidak sampai di situ saja, di penghujung acara para peserta juga mendapatkan kesempatan untuk memberikan evaluasi pada pentas studi “Rumah Kita” dengan mengikuti diskusi. Pada diskusi ini, penonton dan pemeran dapat saling bertukar pikiran untuk membahas kurang lebihnya pertunjukan dan nilai-nilai yang terkandung di dalam drama.

“Dramanya sangat bagus dan aku tidak menyangka teman-teman pemeran bisa tampil dengan all out”, ungkap Felicia Darmanto, salah satu penonton.

About the author /


Avatar