Sikap UK Petra di Kala Pandemi Melanda

Fotografer : Yulius Giovani

Sikap UK Petra di Kala Pandemi Melanda

Oleh: Gabriele Tjiphanata dan Natalicia Iandra

Pandemi COVID-19 cukup memberikan guncangan besar terhadap aspek kehidupan manusia. Dampak yang paling terasa dan sering menjadi topik hangat adalah ekonomi. Pandemi ini menimbulkan berbagai kekhawatiran di tengah masyarakat dan membuat jutaan orang kehilangan pekerjaan. Jika melihat data dari Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia per 20 April 2020, hampir tiga juta karyawan terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Data lain juga diutarakan oleh Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN), mereka menyebut bahwa sekitar 15 juta jiwa menjadi korban PHK. Angka ini lebih besar karena data yang dimiliki kementerian belum menghitung usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Selain itu, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) juga mengungkapkan, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada 2020 mencapai 8,1% hingga 9,2%.

            Fenomena ini kemudian membuat perekonomian menjadi lebih sulit. Salah satunya adalah dampak yang dirasakan oleh orang tua dalam pembiayaan anak yang sedang bersekolah dan menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Universitas maupun sekolah sekarang melakukan kegiatan belajar mengajar secara daring. Pembelajaran jarak jauh ini kemudian memunculkan beragam pertanyaan dari orang tua maupun mahasiswa. Mereka merasa pemotongan biaya sekolah terlalu sedikit. Lantas, bagaimana tanggapan pihak Universitas Kristen (UK) Petra mengenai polemik ini?

            Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng selaku Rektor UK Petra menanggapi gonjang-ganjing yang memang sedang terjadi saat ini. Ia kemudian menjabarkan secara detail mengenai kebijakan yang diterapkan oleh UK Petra dalam menghadapi pandemi COVID-19. Menurutnya, universitas di Indonesia memang bukan universitas yang sejak awal sudah didesain dengan proses belajar mengajar secara daring. “Universitas sangatlah berbeda dengan industri. Universitas itu padat karya, membutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang luar biasa banyak. Ada dosen dan pegawai yang harus tetap menerima gaji. Aset universitas yang paling besar itu bukan gedung, tapi SDM,” ujarnya.

Berbeda dengan dosen perguruan tinggi negeri (PTN) yang perhitungan gajinya mendapat pendanaan dari pemerintah dalam dana penetapan gaji pegawai negeri sipil (PNS), dosen perguruan tinggi swasta (PTS) menerima gaji berdasarkan kemampuan masing-masing PTS. Sebagian besar anggaran yang dimiliki UK Petra digunakan untuk Human Capital yang mencakup gaji dosen tetap, gaji dosen luar biasa (LB) atau dosen tidak tetap, gaji tenaga kependidikan, asuransi kesehatan, pengembangan dosen berupa studi lanjut, maupun pelatihan dosen dan tenaga kependidikan. Pemasukan utama universitas yang didapatkan dari tuition fee (biaya kuliah) sekitar 94%. Lalu, pengeluaran utamanya adalah human capital. “Jika biaya kuliah dipotong terlalu banyak, lalu apa yang akan terjadi dengan human capital?” ujar Djwantoro.

Selain itu, mengenai fasilitas yang tidak digunakan, Djwantoro mengungkapkan, sebenarnya anggaran untuk listrik, pendingin ruangan, dan lain sebagainya hanya 4,6%. Meskipun fasilitas universitas tidak banyak digunakan, tapi biaya listrik tidak terlalu berkurang. Karena biaya paling tingginya adalah biaya dasar tagihan atau biaya abonemen. Biaya yang tergantung dari kWh penggunaan justru tidak terlalu berpengaruh signifikan.

Meskipun demikian, UK Petra terus melakukan kebijakan untuk membantu mahasiswa yang kesulitan membayar biaya kuliah. Banyak anggaran yang dibekukan dan dialihkan menjadi beasiswa agar tidak ada mahasiswa yang putus sekolah karena alasan tidak mampu. “UK Petra merupakan Caring and Global University. Caring ini yang sedang kami terapkan. Kami tidak ingin ada mahasiwa yang harus Drop Out (DO) karena masalah keuangan. Namun, ada prosedur yang harus diikuti agar bantuan ini sampai kepada tangan yang tepat,” ungkap Dr. Jenny Mochtar, MA selaku Wakil Rektor Bidang Akademik.

UK Petra tidak menggunakan sistem sama rata seperti pemotongan dalam persentase tertentu dari biaya kuliah mahasiswa. Jika hal ini dilakukan, maka dampak yang ditimbulkan akan lebih besar. Berapa banyak mahasiswa yang akan terputus studinya jika hanya mendapatkan potongan 10% dari biaya kuliah yang dikenakan? Anggaran-anggaran ini kemudian dialokasikan kepada mereka yang kurang mampu dengan program “Beasiswa Petra Peduli Covid-19”. “Saya tahu perekonomian kita sedang porak poranda dan ini memang situasi yang sangat berat. Tapi, kita ingin mengajak mereka yang masih mampu dan kuat, yuk kita bantu teman-teman yang sedang terancam ini. Kita juga menggalang dana melalui Petra Donation untuk membantu mereka yang sedang terpukul oleh situasi ini,” tegas Djwantoro.

Lalu, bagaimana dengan pelaksanaan kuliah semester depan? “Semua perkuliahan wajib dimulai online, setelah ujian tengah semester kalau situasi memungkinkan kita mulai bisa offline terutama yang membutuhkan banyak praktik,” ucap Djwantoro. Perbedaan signifikan di masa pandemi ini menyebabkan adanya sistem pembelajaran yang berbeda. “Ini terus terang situasi yang sangat sulit, kompleks, dan complicated. Lebih sulit karena belum ada manual book-nya. Tidak ada yang pernah mengalami hal seperti ini, jadi kita tidak bisa belajar dari hal serupa sebelumnya,” lanjut Djwantoro.

Berkaitan dengan sistem kuliah yang berbeda dari biasanya, Jenny menyampaikan  proses kinerja kuliah daring yang sudah  dilaksanakan bersama. “Ketika kita switch dari offline menjadi online, kita cukup keteteran. Tapi, kita bertindak dengan cepat melalui rapat koordinasi dan lain sebagainya. Termasuk melakukan monitoring juga terhadap bagaimana pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) ini,” ucap Jenny. Ia juga menyampaikan, masukan-masukan dari mahasiswa dan dosen lewat kuesioner akan menjadi evaluasi untuk semester depan.

“Kita juga sedang membangun YouTube studio. Lalu, ada pula yang kita sebut dengan ‘Bilik PJJ’, yaitu sarana dan prasarana agar dosen punya tempat untuk memberikan materi-materi kuliah dengan baik,” ucap Jenny menjelaskan mengenai pembaharuan metode kuliah daring untuk semester mendatang.

“Secara sarana prasarana, hardwarenya, sistem informasinya, softwarenya, dan juga kemampuan dosen yang kita perkuat. Jadi, itu keseluruhan yang sudah kita siapkan untuk semester yang akan datang,” tambah Jenny.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Arja Sadjiarto, S.E., M.Ak., Ak. ikut menambahkan informasi seputar Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). “Kita perlu memikirkan kegiatan mana yang bisa offline dan mana yang bisa online. Terus terang seperti olahraga, kita masih belum berani karena dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) disebutkan yang seperti basket itu tidak boleh, karena bolanya berpindah tangan. Jadi, memang kita harus menyikapinya dengan kreatif, harus baru,” ucap Arja.

Djwantoro dalam sambutannya pada momen Dies Natalis UK Petra ke-59 mengatakan, “Tak terbayangkan sebelumnya pandemi seperti ini akan pernah terjadi, sebuah pandemi yang dampaknya amat luar biasa, ‘a black swan event’. Semua maksud dan rencana porak poranda.” Namun pandemi ini mengingatkan kita, betapa kecil dan tak berdayanya manusia. Karenanya kita harus terus bersandar pada Tuhan yang berdaulat. Penyertaan-Nya sempurna, dalam situasi yang tenang, maupun di tengah badai yang menggelora.

Sobat GENTA, setiap mata uang memiliki dua sisi yang berbeda. Situasi ini memang tidak mudah, tapi yuk kita saling bergandengan tangan untuk berjalan ke depan, ke arah yang lebih baik. Hidup tidak hanya berkutat pada diri kita sendiri. Salah satu alasan kenapa Tuhan masih memberikan kekuatan adalah agar kita dapat menolong orang lain. Semangat, badai pasti berlalu!

About the author /


Avatar