Page 28 - GENTA 201
P. 28
Guratan Pena II
Tak lama setelah itu, Dion menghampiri Kinan yang sedang
duduk di taman.
“Maafin aku, Kin. Aku sadar udah kelewatan,” ujarnya sambil
menggenggam kedua tangan Kinan.
Sambil menepuk-nepuk pundak sahabatnya, Kinan
memperingatkan bahwa kekuasaan yang dimiliki Dion berdampak baik
hanya untuk sementara waktu. Cepat atau lambat, semua niat busuknya
akan terbongkar. Kinan tidak ingin harapan anak-anak itu musnah dan
citra baik Dion sebagai panutan anak muda hancur seketika.
“Tanggung jawab kita nggak cuma memberi mereka pendidikan
yang layak, tetapi juga membuat mereka menjadi orang yang berintegritas,
Yon,” ujar perempuan berambut ikal itu.
Dion termenung sejenak. Ia hanya ingin memberi masa depan
yang cerah, bukannya menjebak anak-anak itu ke dalam jurang kegelapan.
“Aku nggak tahu harus mulai perbaiki dari mana,” ucap Dion
sembari air matanya perlahan mengalir.
“Nggak apa-apa. Ayo, kita cari jalan keluarnya bareng-bareng,”
sahut Kinan sambil tersenyum.
Dion mengangguk dan segera memeluk erat sahabat masa
kecilnya itu.***
28 | GENTA

