Logo Genta
GENTA Petra Logo

Satu Tim, Dua Generasi Berbeda

Diterbitkan pada: 06 June 2018 Reporter: Felita Gazella Hartoyo Illustrator: Claudia Juelita Putri

Satu Tim, Dua Generasi Berbeda

Dalam keseharian, perbedaan usia bukan sekadar soal angka. Perbedaan itu membawa cara pandang, kebiasaan, dan gaya kerja yang kadang terasa asing bagi satu sama lain. Tidak heran bila gesekan kerap timbul di dalam dinamika kelompok.

Pernahkah Sobat GENTA merasa kurang ‘sreg’ ketika berinteraksi dengan rekan kerja yang lebih tua maupun muda? Kalau iya, kemungkinan besar alasannya bukan karena orangnya, melainkan karena perbedaan persepsi tersebut. Junior menilai senior ‘kaku’ dan sulit menerima perubahan, sementara senior menilai junior ‘kurang tangguh’ dan minim pengalaman. Bila terus dibiarkan, hal ini bisa menciptakan lingkungan yang toxic. Padahal dengan sikap saling terbuka dan kesediaan menurunkan ego, perbedaan justru bisa menjadi kekuatan tim.

Kesenjangan ekspektasi antargenerasi sering menjadi akar masalah di lingkungan kerja. Puspitasari dkk. (2025) mencatat, senior mengutamakan disiplin dan loyalitas, sementara junior lebih ke fleksibilitas.

Menanggapi fenomena ini, Esti Kurnianingsih, S.Psi., M.A, konselor di Pusat Konseling dan Pengembangan Pribadi (PKPP) Universitas Kristen Petra (UK Petra), menilai bahwa jarak senior dan junior itu wajar karena perbedaan generasi. “Perlu effort untuk masuk ke dunia satu sama lain,” ujarnya. Artinya, butuh usaha dari kedua belah pihak, bukan hanya menuntut salah satunya.

Hal serupa juga sering memicu kesalahpahaman dalam komunikasi digital sehari-hari. Contohnya saat Esti membalas chat rekannya yang merupakan Gen Z dengan kata “ok”, rekannya ternyata langsung overthinking. “Buat saya, ‘ok’ ya berarti oke, tidak ada emosi apapun di baliknya,” ceritanya. Ternyata, solusinya sesederhana mengganti jawaban dengan “okeee” ditambah emoticon. Uniknya, perbedaan kecil juga terjadi dalam pemaknaan emoticon itu sendiri. Bagi generasi Esti, emoticon menangis murni berarti sedih, namun bagi Gen Z justru bisa bermakna tertawa terbahak-bahak. Perbedaan kecil seperti itulah yang tanpa disadari kerap memicu salah persepsi antargenerasi.

Nyatanya, miskomunikasi antar generasi tidak selalu berakhir menjadi konflik besar jika ada ketersediaan untuk saling memahami. DJKN Kemenkeu (2024) bahkan menyebut keberagaman generasi di tempat kerja sebagai aset. Tiap generasi dibekali kelebihan masing-masing. Senior memiliki jam terbang dan pertimbangan yang matang, sedangkan junior membawa ide baru, kepekaan tren, serta kelincahan teknologi. Keberhasilan tim bukan ditentukan oleh siapa yang paling tua atau muda, melainkan dari kemampuannya mereka dalam kolaborasi. Keinginan mau belajar dari satu sama lain justru dapat menghasilkan sebuah inovasi.

Agar kolaborasi ideal bisa terwujud, dibutuhkan fondasi berupa hubungan yang hangat dan solid. Esti menggambarkan hubungan sehat ini layaknya sebuah keluarga yang rukun. “Setiap anggota keluarga seharusnya saling menyayangi, memahami, dan membanggakan walaupun beda generasi, style, dan kebiasaan,” jelas Esti. Rasa saling menyayangi menjadi perekat ketika gesekan terjadi, sehingga tiap anggota tim lebih ringan untuk berlapang dada. “Karena sudah saling menyayangi dan memahami, maka bisa lebih ringan untuk bilang ‘tidak apa-apa’,” ucapnya.

Esti pun mengibaratkan tim yang solid seperti pahlawan super masa kecil kita, yaitu Power Rangers. “Kita bisa menjadi satu Power Rangers, yang berbeda-beda warna tapi punya senjata masing-masing dan saling mendukung satu sama lain,” katanya. Jika setiap orang masih sibuk melihat kekurangan yang lain, tujuan tim malah jadi sulit tercapai. Namun, ketika saling menghargai, pengalaman dan kreativitas bisa bertemu dan menciptakan cara kerja yang lebih berwarna.

Semua itu tentu butuh langkah nyata dari kedua pihak. Memang tidak mudah, tapi bisa dimulai dari membuka diri bahwa setiap generasi punya kelebihannya masing-masing. Dari situ, komunikasi asertif dapat tumbuh, yaitu komunikasi yang benar-benar mendengarkan untuk memahami, bukan menghakimi. Saling menghargai pun perlu dibiasakan karena ide bagus bisa datang dari siapa saja.

Namun dalam praktiknya, niat baik tersebut tidak selalu mudah diwujudkan. Anggapan Gen Z  "tidak tahan tekanan" justru membuat banyak gagasan terpendam sebelum sempat dilontarkan. Akibatnya, ide-ide segar yang seharusnya bermanfaat untuk tim malah menguap begitu saja tanpa pernah terdengar.

Begitu pula dari sisi senior. Ketika mereka tidak dilibatkan saat diskusi atau pengambilan keputusan, muncul perasaan bahwa pengalaman panjang yang mereka miliki tidak lagi dianggap berarti. Puspitasari dkk. (2025) mengingatkan, kolaborasi lintas generasi dibangun dari kebiasaan kecil yang konsisten. Ketika kedua pihak merasa dilibatkan dan didengar, rasa memiliki terhadap tim pun akan tumbuh bersama.

Tentu, menjaga kebersamaan itu tidak selalu mulus. Ketika perbedaan cara kerja mulai merenggangkan hubungan, tujuan bersama bisa jadi pengingat untuk mencegah gesekan menjadi konflik. Di PKPP sendiri, ruang seperti itu nyata diwujudkan lewat semboyan ‘we listen we don’t judge,’ sehingga setiap orang tidak ragu untuk bertanya maupun mengungkapkan kebingungannya. Esti pernah membuka sesi bersama rekan Gen Z nya untuk membahas perbedaan pemaknaan emoticon yang memicu kesalahpahaman. Hasilnya, mereka lebih memahami cara berkomunikasi satu sama lain, sekaligus memperluas wawasan Esti mengenai cara berkomunikasi Gen Z.

Pada akhirnya, perbedaan antara senior dan junior bukanlah bencana. Dengan komunikasi yang baik, saling menghargai, dan kemauan belajar, perbedaan itu justru dapat menjadi kekuatan. Seperti kata Esti, “Perbedaan perspektif bukan untuk saling merusak atau menghambat, tapi justru memperkaya kita dengan pandangan yang holistik dari berbagai sisi,”. Seperti layaknya Power Rangers, tim akan jauh lebih kuat ketika bersatu daripada berjalan sendiri-sendiri.

Jadi, Sobat GENTA masih ingin saling berjarak atau sudah siap bersatu demi tujuan bersama yang lebih baik?

 

Daftar Pustaka:

Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Kemenkeu. (2024). Bekerja lintas generasi, merajut harmoni di tengah perbedaan. https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kanwil-kaltim/baca-artikel/17758/Bekerja-Lintas-Generasi-Merajut-Harmoni-di-Tengah-Perbedaan.html 

Puspitasari, D. G., Salsabela, Nurjanah, S., & Silviyana, Z. (2025). Sikap kooperatif dan kolaboratif lintas generasi dalam implementasi di dunia kerja. JPIM: Jurnal Penelitian Ilmiah Multidisipliner, 2(4), 1276–1283. https://ojs.ruangpublikasi.com/index.php/jpim/article/download/1444/1183/4511