Logo Genta
GENTA Petra Logo

Ketika Tren Menggoda, Tapi Hati Berbicara

Diterbitkan pada: 22 December 2025 Reporter: Raymond Chandler Gunawan Illustrator: Vaness Anggiarto

Ketika Tren Menggoda, Tapi Hati Berbicara

Karier sering kali menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan, hingga terkadang kita dilema dalam memilihnya. “Masuk ke informatika saja, gajinya besar dan lapangan kerjanya banyak.” Bisikan seperti ini mungkin pernah terlintas di dalam pikiran Sobat GENTA saat memilih jurusan (Institut Teknologi Indonesia, 2025). Namun, apakah lebih baik seperti itu? Atau tetap mengikuti kata hati? 

Menurut World Economic Forum (WEF) (2025), tren pekerjaan saat ini memang mengarah ke teknologi dan manajemen. Dalam laporannya, pekerjaan yang berhubungan dengan data dan keamanan teknologi diprediksi akan melonjak sampai tahun 2030. Prediksi ini dilandasi data pekerjaan dengan pertumbuhan tercepat, dengan Big Data Specialists pada peringkat pertama.

Memiliki karier yang linear dengan passion tentu menjadi impian semua orang. Tapi sebenarnya apa yang dimaksud dengan passion? Apa sekadar suka dengan suatu bidang? 

Sastra Budiharja Santoso, S.Psi., M.Th. (Manajer Petra Career Center) berpendapat, passion bukan hanya tentang hal yang kita sukai. “Passion itu sebenarnya bukan cuma ‘apa yang aku suka.’ Tapi, ‘what I am willing to sacrifice for free?’” ujarnya. Artinya, passion bukan sekadar suka tapi apa yang Sobat GENTA rela lakukan meski tidak mendapat upah.

Tetapi, dunia kerja sangat sulit untuk diprediksi. Karena itu, kita tetap perlu beradaptasi dengan tren. Sayangnya, tidak jarang kita justru lebih berfokus pada trennya hingga mengabaikan isi hati karena khawatir tidak mendapat pekerjaan (Fimela.com, 2017). Fellexandro Ruby dalam video Youtube TEDx Talks (2020) menyampaikan bahwa passion saja tidak cukup. Ia menyatakan passion belum bisa menafkahi kita sebelum diberikan waktu dan tenaga untuk berkembang.

Sastra juga menyarankan agar terus menjelajahi berbagai bidang untuk menemukan passion yang tepat. Passion membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Kegagalan dalam mencarinya sangat wajar, banyak orang yang mengalaminya juga (Agustiyarini dkk., 2023). Kuncinya adalah berani untuk mencoba dan tidak takut gagal. Dengan cara ini, Sobat GENTA dapat perlahan-lahan menemukan passion yang ada dalam diri.

Setelah mengetahui passion masing-masing, tibalah saatnya untuk menentukan komposisi yang seimbang antara passion dan tren karier. Menurut Sastra, idealnya 50 hingga 60 persen pekerjaan yang kita jalani sesuai dengan passion. Ia meyakini, proporsi tersebut memungkinkan kita untuk bekerja lebih giat dengan lebih gembira. Selain itu, Sastra juga menyarankan untuk menerapkan konsep Ikigai dalam memilih karier. 

Konsep Ikigai menggambarkan kebahagiaan yang mendalam, bersifat jangka panjang, dan berkaitan dengan motivasi untuk mencapai tujuan hidup. Ikigai juga menekankan keseimbangan antara makna hidup dan kebahagiaan (Triyadi, 2025). Dalam penerapannya, terdapat empat komponen yang saling terhubung satu sama lain (Erick Godsey, 2024; The Present Psychologist, 2023)

Komponen pertama adalah ‘what you love’. Sebelum mendalami sesuatu, penting untuk mempertimbangkan apakah kita enjoy dengan hal tersebut. Inilah fondasi utama sebelum menentukan langkah berikutnya.

Komponen berikutnya berbicara tentang bidang apa yang kita kuasai. Ketika menemukan bidang yang Sobat GENTA suka dan kuasai, maka bidang tersebut akan menjadi passion. Misal, seseorang yang gemar bermain game. Ia belum tentu memiliki passion dalam bidang tersebut kecuali, ia jago dalam game itu. 

Agar keahlian dapat menghasilkan uang, maka komponen ketiga menjadi pertimbangan. Komponen tersebut berbicara tentang apa yang akan orang bayarkan dari keahlian kita. Jika Sobat GENTA memiliki keahlian dalam fotografi dan orang bersedia membayarnya, maka keahlian tersebut dapat berkembang menjadi profesi. 

Pada komponen keempat, akan terlihat bagaimana perbedaan dari pekerjaan dan profesi. Komponen keempat adalah komponen yang mempertimbangkan kebutuhan dunia atau ‘what the world needs’. Perbedaan antara pekerjaan dan profesi adalah ketentuan yang harus kita miliki. Pekerjaan hanya sesuatu yang dilakukan untuk menghasilkan nafkah, sedangkan profesi menuntut kita untuk terampil dalam bidang tersebut. Jadi, profesi merupakan pekerjaan yang dilandasi keahlian tertentu. Sebagai contoh, orang yang memiliki karier sebagai pekerja kasar (yang tak butuh skill khusus). Mereka dibutuhkan dunia, namun hal-hal yang perlu dikuasai tidak sebanyak pekerja kantoran. Ini terbukti dalam laporan WEF (2025) yang mencatat pekerjaan konstruksi pada peringkat pertama dalam hal pertumbuhan.

Ketika komponen pertama dan keempat dipadukan, lahirlah sebuah misi. Jika Sobat GENTA menyukai bidang komputer seperti membuat program, maka membuat aplikasi untuk kepentingan sosial dapat menjadi misi. Kita bisa mengambil contoh program open-source seperti perangkat lunak Linux yang menjadi basis Android. 

Berdasarkan empat konsep sebelumnya, Sobat GENTA dapat memperoleh gambaran bagaimana menentukan karier, jurusan, hingga tujuan hidup. Sobat GENTA mungkin bisa memilih ingin fokus ke karier, tetapi hati kita bisa kosong. Hal itu karena kita tidak memiliki komponen ‘what you love’ dalam penerapannya. Sama halnya ketika fokus pada passion, Sobat GENTA mungkin merasa terpenuhi, tetapi penghasilannya belum tentu tinggi. Bahkan ada kemungkinan kita merasa puas namun merasa tidak impactful

Karena itu, penting bagi Sobat GENTA untuk mencoba berbagai hal agar dapat mengenali bidang apa yang digemari. Dengan mengetahui bidang yang digemari, kita bisa mendalaminya hingga akhirnya berkembang menjadi ‘what you good at’. Lalu, kita bisa mencari tahu bidang yang bersedia dibayar oleh orang lain. Misalnya, jika memiliki kemampuan mendesain, peluang untuk bekerja di industri kreatif terbuka lebar.

Setelah melalui tahap sebelumnya, Sobat GENTA mungkin sudah merasa cukup. Dari sisi kebahagiaan dan finansial, Sobat GENTA sudah terpenuhi. Sudah bekerja sesuai passion ditambah mendapat bayaran, ini adalah impian banyak orang. Namun, masih ada satu aspek yang tidak kalah penting, yaitu ‘apa yang dunia butuhkan?’. Kita bisa mulai dengan memperhatikan  keresahan orang-orang di sekitar kita. Keresahan tersebut bisa meliputi kurangnya lapangan kerja, ketimpangan akademik, krisis lingkungan, dan lain-lain. “Mengerjakan sesuatu yang kamu mampu, sukai, dan memang dibutuhkan, lalu dapat bayaran, lengkap hidupmu,” ujar Sastra.

Mempertimbangkan fokus antara karier dan passion memang penting, tetapi mempertimbangkannya secara hitam putih bukanlah keputusan yang bijak. Kita tidak bisa sepenuhnya memilih karier dan begitu juga sebaliknya, tidak bisa sepenuhnya memilih passion. Keduanya perlu berjalan seimbang, dengan porsi sekitar 50 hingga 60 persen untuk passion dan sisanya berlandaskan kebutuhan karier. Ketika keduanya seimbang, peluang untuk merasa bahagia dengan pilihan hidup akan jauh lebih besar. Jadi, bagaimana? 

Apakah Sobat GENTA sudah siap menentukan pilihan?

 

Sumber: 

Agustiyarini, D. P., Syarof, I. M., & Santoso, G. (2023). Perilaku Dalam Menjalankan Keinginan Agar Tujuannya Tercapai. 02(02), 45–49. 

Fimela.com. (2017, Agustus 25). 4 Hal yang Akan Terjadi Jika Tujuanmu Kerja Cuma demi Uang. fimela.com. https://www.fimela.com/lifestyle/read/3773266/4-hal-yang-akan-terjadi-jika-tujuanmu-kerja-cuma-demi-uang 

Godsey, E. (2024, Februari 3). Can A Lie Be More Useful Than The Truth: The Ikigai Story. https://www.erickgodsey.com/blog/how-a-lie-will-still-help-you-find-your-purpose-the-story-of-ikigai 

Institut Teknologi Indonesia. (2025, Juni 30). 5 Pertimbangan Memilih Kuliah: Sesuai Passion Atau Peluang Kerja? - Institut Teknologi Indonesia. https://iti.ac.id/kuliah-sesuai-passion-vs-peluang-kerja/ 

TEDx Talks (Direktur). (2020). Why Passion is Not Enough | Fellexandro Ruby | TEDxYouth@SWA [Video recording]. https://www.youtube.com/watch?v=brwBTcacJtI 

The Future of Jobs Report 2025. (2025). https://www.weforum.org/publications/the-future-of-jobs-report-2025/ 

The Present Psychologist (@thepresentpsychologist) • Instagram photos and videos. (2023, Oktober 20). https://www.instagram.com/thepresentpsychologist/ 

Triyadi, M. I. (2025). Ikigai: Filosofi Hidup Bahagia Orang Jepang. ResearchGate. https://doi.org/10.70508/literaksi.v1i02.219