COMMET 2025: Satu Gambar, Seribu Makna
Diterbitkan pada: 27 July 2025 Reporter: Catherine Sutedjo Fotografer: Darrent Valentino
Tahun ini, Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Petra (HIMAKOMTRA) mengadakan Communication in Excellence Training (COMMET) yang telah menginjak usia ke-20 dengan semangat baru dan jangkauan yang lebih luas. Mengusung tema “Capturing Unity in Photostory”, COMMET 2025 bukan sekadar perayaan, melainkan ruang bertemunya ide, budaya, dan perspektif dari berbagai belahan dunia dalam sebuah workshop internasional yang penuh makna.
Sesi utama workshop ini dipandu oleh sosok inspiratif di balik lensa, Bernadette Denty Piawai Nastitie, seorang jurnalis sekaligus fotografer ternama dari Kompas TV. Dengan penuh semangat, Denty membagikan ilmu mengenai teknik fotografi yang tidak hanya estetik, tapi juga komunikatif. Ia mengajarkan bagaimana membangun narasi visual yang kuat, relevan, dan menyentuh sejalan dengan tema “unity” atau kesatuan yang menjadi benang merah dalam sesi ini.
Lebih dari sekadar teori, COMMET tahun ini mengajak peserta untuk langsung turun ke lapangan dalam sesi praktik photostory making. Dipersenjatai dengan kamera dan rasa ingin tahu, para peserta menjelajahi area sekitar selasar gedung Q3 PCU untuk mencari dan menangkap momen yang mereka rasa paling merepresentasikan makna kesatuan. Tak hanya mengambil gambar, mereka diminta merangkai cerita, menjelaskan mengapa objek tersebut dipilih, sudut pandang yang digunakan, serta makna di balik cerita visual yang mereka bangun.
“Photostory adalah bentuk komunikasi visual yang kuat,” ungkap Denty dalam sesi diskusi. “Manusia sejak lahir tidak langsung mengenal kata, tapi belajar dari visual. Di situlah letak kekuatannya”, ujarnya. Denty menekankan bahwa setiap gambar membawa persepsi, dan setiap persepsi dipengaruhi oleh latar belakang dan pengalaman individu. Maka dari itu, photostory menjadi jendela untuk memahami keberagaman cara pandang, sekaligus jembatan untuk menyatukan perbedaan.
Yang membuat acara semakin istimewa adalah skala internasionalnya. Tercatat 75 peserta dari enam negara Indonesia, Korea Selatan, Singapura, Australia, Malaysia, dan Tiongkok turut ambil bagian. Dalam suasana lintas budaya ini, diskusi dan kolaborasi menjadi semakin kaya. Para peserta tidak hanya belajar tentang fotografi, tetapi juga tentang nilai-nilai kemanusiaan dan bagaimana menyampaikan harmoni melalui bahasa visual yang universal.
COMMET 2025 sukses membuktikan bahwa kamera bukan sekadar alat dokumentasi, melainkan medium untuk menyatukan pandangan, menyuarakan perasaan, dan merangkai cerita yang bisa melampaui batas bahasa. Melalui tema “Capturing Unity in Photostory”, workshop ini telah menciptakan ruang di mana setiap sudut pandang dihargai, dan setiap cerita memiliki tempat untuk bersinar.