Logo Genta
GENTA Petra Logo

ASFS Film Festival 2025: Dari Layar Kecil ke Impian Besar

Diterbitkan pada: 07 July 2025 Reporter: Elin Carolina, Catherine Sutedjo Fotografer: Agatha Nadya

ASFS Film Festival 2025: Dari Layar Kecil ke Impian Besar

Sabtu (10/05/2025) dan Sabtu (17/05/2025), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Apresiasi Seni Film dan Sastra (ASFS) Petra Christian University (PCU) mengadakan festival film berjudul “One Minute Short Film”. Festival ini menampilkan film pendek berdurasi satu menit yang diproduksi oleh anggota UKM. Dengan adanya tema besar “One Little Step Towards Aspire”, ASFEST 2025 diharapkan bisa menjadi batu loncatan bagi peserta untuk memulai dalam dunia perfilman. 

Kegiatan ini diselenggarakan dengan tujuan memberikan wadah pembelajaran bagi mahasiswa pembuat film pemula. Pemilihan durasi film selama satu menit didasarkan pada pertimbangan bahwa konsep yang sederhana serta proses produksi dan penyuntingan yang singkat akan lebih memudahkan peserta dalam memahami tahapan dasar pembuatan film. Festival ini terbuka untuk publik dan menampilkan film karya peserta yang berasal dari berbagai daerah termasuk Semarang, Purwokerto hingga Jakarta.

Wili Kumara Juang selaku juri dalam acara pemutaran film ini menyampaikan ucapan terima kasih serta apresiasinya atas antusiasme para peserta yang telah menunjukkan kreativitas dalam memproduksi film berdurasi satu menit. “Kita nikmati bersama acara ini, dengan menyaksikan film-film pendek yang telah dibuat,” ujarnya. Pada sesi pemutaran film, ditayangkan enam video berdurasi pendek. Ada “Swarana”, “Kala Itu”, “Peri Gigi”, “Surat Keterangan Tidak Mampu”, “Satu-Satu”, dan “Would You Be My Valentine?

Film pertama berjudul “Swarana” yang menceritakan tentang seorang pemuda bernama Raka dihadapkan dua pilihan antara memilih impiannya atau mengikuti harapan Ibunya, setelah menjalani kehidupan yang bukan jalannya Raka menemui Ibunya di pagi hari. “Ceritanya sederhana namun menenangkan”, tambah Wili. Ia juga menambahkan bahwa kisah yang disampaikan cukup menyentuh, dan dari segi sinematografi sudah tergarap dengan baik. 

Kemudian, film kedua berjudul “Kala Itu” yang menceritakan tentang Indra, di tengah euforia promosinya sebagai CEO PT. Amplomedia, justru dihantui kenangan kelam masa kecilnya—trauma kekerasan dan tekanan dari sang ayah. Di balik senyuman keberhasilannya, ia berjuang berdamai dengan luka lama demi menjadi pemimpin yang utuh. Menanggapi film ini, Wili menyampaikan bahwa cerita yang diangkat terasa realistis dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. 

Video ketiga berjudul “Peri Gigi” yang mengisahkan tentang Nana yang baru saja kehilangan giginya dan penasaran apakah peri gigi benar-benar ada. Dipenuhi rasa ingin tahu, ia pun menyusun rencana rahasia untuk membuktikan keberadaan sosok peri itu. Pada video keempat berjudul “Surat Keterangan Tidak Mampu”. Film ini mengisahkan Soedjono yang datang ke kantor kelurahan demi masa depan anaknya, namun harus menghadapi birokrasi absurd yang mengukur kemiskinan dari tembok rumah dan jumlah makan. Sebuah potret lirih tentang perjuangan rakyat kecil untuk sekadar diakui layak menerima bantuan.

Video kelima berjudul “Satu-Satu” yang mengikuti Nindy yang larut dalam kesunyian pada pukul 11:11. Dihantui kehilangan keluarganya, lagu masa kecil “Satu-satu” membawanya menyusuri kenangan lama yang perlahan hidup kembali. Dalam keheningan dan rindu, Nindy menyadari bahwa yang hilang tak pernah benar-benar pergi. Lalu, video terakhir berjudul “Would You Be My Valentine?”. Video in terinspirasi dari tren audio TikTok “Awas, Jangan Salah Pasangan.” Film ini mengisahkan Roy, siswa SMA berusia 18 tahun di Surabaya, yang awalnya jatuh hati pada Gebi, seorang mahasiswi cantik yang ia lihat di media sosial. 

Namun, ketertarikannya berubah menjadi obsesi gelap hingga Roy menculik Gebi dan memaksanya menjadi pasangan di hari Valentine. Sebuah kisah cinta yang berubah menjadi teror. Video ini ditayangkan sebagai penutup sesi screening film. Untuk menutup rangkaian acara yang ada, ASFEST 2025 menghadirkan hiburan musik dari UKM Vocal Group (VG) yang menyanyikan sejumlah lagu seperti “Teka-Teki”,“Seandainya”,“Kasih Putih”, dan “You’re Still the One”.

Salah satu rangkaian acara pendukung ASFEST 2025 adalah Ini Talkshow Edukasi Movie (ITEM). Kegiatan ini menghadirkan para profesional dunia perfilman yang berbagi pengalaman, pengetahuan dan wawasan. Menariknya, ITEM dulunya merupakan acara lepas UKM ASFS yang sekarang menjadi bagian dari ASFEST. Puncak acara ASFEST 2025 ditandai dengan sesi screening film yang menayangkan karya-karya terpilih dari peserta yang berhasil masuk dalam official selection

Robert Ronny (salah satu pendiri Paragon Pictures) selaku pembicara talkshow ITEM yang berjudul “Looking at Indonesian Film History”, membahas tentang realistis industri maupun dunia film di Indonesia. Topik ini dipilih karena memberikan nilai realistis di dunia perfilman Indonesia yang penuh potensi sehingga peserta bisa semakin percaya diri untuk berkarya di dunia film.

Dalam awarding, terdapat beberapa kategori penghargaan yang diberikan, yaitu Best Cinematography yang dimenangkan oleh film “Peri Gigi” dari UFO “Veteran” Jakarta, kemudian Best Story diraih oleh Resilience Pictures melalui film berjudul “Swarana”, dan penghargaan tertinggi yaitu Best Pictures berhasil dimenangkan oleh film “Resonansi Kala Itu” dari Ampu Cinema.

Sobat Genta, acara ini bukan hanya perayaan karya-karya film, tetapi juga refleksi atas perjalanan, dedikasi, dan kecintaan terhadap dunia seni yang terus hidup dalam setiap anggotanya. Sejak didirikan pada tahun 1998 oleh Robert, UKM ASFS berkembang dari komunitas diskusi film menjadi wadah yang kreatif untuk produksi dan memberikan edukasi tentang perfilman. ASFEST merupakan bukti nyata semangat UKM ini dalam mewadahi, membina para generasi muda untuk terus berkarya dalam dunia perfilman.