.
Genta Campus Magazine
Petra Christian University Surabaya
 
 


WAYANG JEMBLUNG
Hanya bermodalkan mulut dan tubuh dalang

Mulai edisi ini, seiring dengan semangat reformasi Genta dengan penuh rasa bangga menyajikan satu rubrik baru yang dapat menambah wawasan kita tentang khasanah budaya dunia, termasuk dari negeri sendiri, Indonesia. Rubrik ini bernama "Sentilan Budaya", tidak mengulas suatu budaya secara mendalam tetapi hanya 'menyentil' hal-hal dalam budaya atau adat istiadat yang belum diketahui oleh orang banyak, termasuk kebiasaan-kebiasaan budaya/tradisi yang unik.

Wayang Jemblung atau Dalang Jemblung adalah suatu bentuk kesenian teater tradisional dari daerah Banyumas. Berbentuk seperti layaknya pagelaran wayang, namun dimainkan oleh seorang dalang yang sekaligus merangkap sebagai wayang, gamelan, pengrawit, dan waranggana (vokalis). Pada perkembangannya, Wayang Jemblung dimainkan oleh tiga sampai enam orang karena pengaruh kesenian tradisional lainnya, seperti ketoprak dan wayang orang.

Istilah "jemblung" hingga saat ini tidak ada yang mengetahuinya secara pasti, namun di daerah Banyumas terdapat dua pendapat yang berbeda. Pendapat pertama mengatakan bahwa 'jemblung' berasal dari kata 'gemblung' yang artinya 'gila'. Pendapat ini cukup bisa diterima, karena saat pertunjukan berlangsung, sang dalang berakting seperti orang gila. Semua dilakukan sendiri, mulai menjadi wayang hingga menyanyikan iringan musiknya. Pendapat kedua mengatakan bahwa istilah ini dipopulerkan oleh seorang dalang bernama Ki Lebijiwo di pengungsian, saat terjadi perang Trunojoyo pada jaman kerajaan Mataram. Di pengungsian beliau ingin melakukan pagelaran wayang. Namun karena situasinya tidak memungkinkan tersedianya fasilitas yang memadai, maka pagelaran wayang dilakukan seadanya. Yang penting, the show must go on. Saat memainkan lakon Babad Menak dengan tokoh sentral Umarmaya dan Umardani, Ki Lebijiwo selalu menambahkan julukan 'jemblung' di depan nama kedua tokoh tersebut.

Karena sering diucapkan, penonton menjadi akrab sehingga dikemudian hari istilah Wayang Jemblung menjadi nama pertunjukan sendiri sampai saat ini.

Pertunjukan ini dimainkan dengan duduk bersila menghadap meja yang kadangkala penuh dengan camilan untuk sang dalang. Bila pemain/dalang lebih dari satu orang, mereka duduk berhadapan. Mereka mempunyai pembagian tugas yang jelas, misalnya siapa yang bersuara seperti rebab, gong, atau sebagai waranggana.

Secara garis besar, repertoir Wayang Jemblung tidak jauh berbeda dengan repertoir Wayang Kulit. Perbedaan yang menyolok adalah pada pemakaian wayang dan gamelan. Wayang Jemblung hanya bermodalkan mulut dan tubuh sang dalang. Tidak salah bila ada yang menyebutnya sebagai teater accapela dari Banyumas yang unik tiada duanya.


***ARI***




















 


Agenda Kampus | Logo Baru Petra | Petra University | Motto Carrying Global University
Copyright © 1999 Campus Magazine Petra Christian University
Majalah Kampus Universitas Kristen Petra Surabaya
PO. Box 1991 Surabaya 60236 Indonesia
Homepage :
http://welcome.to/gentaonline
Email :
genta@peter.petra.ac.id
Design by:
Hendri Santoso