Talkshow and Proactive Class (TPAC) 2018: Brace the Movement

Fotografer: Yeremia Tulude Ambat

Talkshow and Proactive Class (TPAC) 2018: Brace the Movement

Oleh: Livia R. A. dan Regina Bella Rosari

Dalam rangka perayaan hari jadi ke-17 tahun, Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi menyelenggarakan Talkshow and Proactive Class (TPAC). Talkshow yang berlangsung pada pukul 09.00-13.00 ini bertempat di Auditorium Universitas Kristen (UK) Petra. Mengusung tema Brace the Movement, TPAC kali ini membahas tentang komunikasi politik dengan berbagai aspek. “Mahasiswa dapat brace atau siaga, karena banyak mahasiswa yang apatis. Kita sebagai mahasiswa yang cendekiawan dan terdidik diharapkan mampu berjuang melawan aksi-aksi teror dan hoax di media sosial,” papar Elisabeth Glory Victory, mahasiswi Prodi Ilmu Komunikasi angkatan 2016, selaku Ketua Panitia.

Mengundang lima pembicara yang telah bergelut dalam dunia media dan politik, diantaranya adalah Gatut Priyowidodo, M.Si., Ph.D. yaitu pengamat kebijakan publik sekaligus dosen aktif Prodi Ilmu Komunikasi UK Petra,  Silih Agung Wasesa, S.Psi., M.Si. yang merupakan pendiri Konner Digital Advisory serta Pendiri Asia PR, Fajar Arifianto Isnugroho yang menjabat sebagai Kommisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) 2013-2016 dan Komisioner KPI Daerah Jawa Timur 2007-2013, Alfito Deannova Gintings yang merupakan Direktur CNN Indonesia), dan Johan Budi Sapto Prabowo, juru bicara kepresidenan.

Masing-masing pembicara menyampaikan pendapatnya berdasarkan keahliannya. Beragam topik terkait dunia politik dan media dibahas. Di antaranya, political branding, netralitas media dalam pemberitaan terkait politik, beberapa isu politik yang terkait media, hingga bagaimana perspektif akademisi. Talkshow berjalan selama tiga jam diikuti dengan antusias oleh peserta, terbukti dari banyaknya pertanyaan yang ingin diajukan saat sesi tanya jawab.

Pergerakan yang begitu cepat dalam dunia media rupanya membawa kekhawatiran. Hal ini disebabkan adanya banjir informasi di media, khususnya media sosial. “Media konvensional tidaklah boleh mengambil informasi dari media sosial, karena hal itu akan mengurangi ke akuratan atau nilai beritanya, jangan pernah menjadikan media sosial sebagai pedoman berita. Apalagi mendewakan sebuah trending topic yang bisa saja hoax,” pesan Johan.

“Diskusi hari ini mengajak kita lebih cerdas lagi dalam bermedia. Bermedia kritis, dengan pintar,” ujar Errol Jonathans, Chief Executive Officer (CEO) Suara Surabaya Media, salah satu tamu undangan. Cerdas bermedia menjadi kunci penting di sini, bagaimana kita berkomunikasi melalui media dan dalam mengonsumsi. Mengingat saat ini media sosial, menurut Errol, tidak terlalu positif juga karena adanya hoax. 

Tak hanya bicara soal talkshow, Errol menyampaikan tanggapannya terkait Prodi Ilmu Komunikasi UK Petra. “Tujuh belas tahun perjalanan, saya lihat tambah lama tambah mateng, sangat menyesuaikan dan mampu beradaptasi dengan perkembangan. Sehingga, studi-studi terkait apa itu dunia Ilmu Komunikasi dan media massa sangat konkret,” tutur Errol.

Selamat hari jadi yang ketujuh belas, Prodi Ilmu Komunikasi! Tetaplah berjaya dan cetak lulusan yang membanggakan!

 

About the author /


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Feature

Majalah Kampus di Ambang Keterpurukan
Posted in: Feature

Majalah Kampus di Ambang Keterpurukan Oleh: Veronica Maureen Sebanyak 1000 eksemplar majalah GENTA dicetak setiap edisinya yang seharusnya menjadi sumber pengetahuan baru bagi seluruh sivitas, tak terkecuali mahasiswa. Dan mungkin, sudut pandang paling tepat dalam menentukan keberhasilan pembuatan GENTA adalah dengan menilai sejauh mana informasi dan pengetahuan yang dituliskan mampu diterima oleh seluruh sivitas. Rendahnya […]

Read More