Tak Sekadar Derap yang Dinanti

Tak Sekadar Derap yang Dinanti

Oleh: Natania Wahyuni T dan Alvin Ramasurya W

Selamat berlibur, Sobat GENTA! Mungkin ada dari kalian yang malah sibuk-sibuknya mengisi kegiatan pada masa liburan. Sampai-sampai liburan kalian mungkin tak layak lagi disebut “liburan”. Meski begitu, pastinya ada rutinitas selama masa perkuliahan yang hilang. Salah satunya bisa jadi adalah mendengarkan playlist lagu yang terdengar di sepanjang selasar gedung A, B, C dan Kantin W Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya. Kalau  Sobat GENTA  salah satu pendengar setia, harusnya notice dong dengan lagu yang selalu jadi langganan dimainkan setiap Selasa pukul 12.00? Kalau belum notice, mungkin Sobat GENTA memerlukan clue yang lain untuk tahu lagu yang dimaksud.

Lagu ini adalah karya beberapa mahasiswa UK Petra yang salah satu personelnya berasal dari Universitas Airlangga. Mereka tergabung dalam Lumago Pictures. Hal itu berawal dari kemenangan mereka dalam lomba short film yang diselenggarakan GO-JEK Indonesia, lagu ini mendapat banyak respon positif dari berbagai pihak. Terbukti, dalam beberapa event di UK Petra, video karya mereka ini diputar. Contohnya dalam closing Bulan Olahraga Mahasiswa (BOM), Bharatika, salah satu sesi UKM Martografi, hingga gosipnya nih ada salah satu dosen manajemen yang memutarnya saat kelas berlangsung!

Euforia yang tercipta di kalangan mahasiswa ini akhirnya membawa tim GENTA  bertemu dengan beberapa anggota dari pengampuh short film dan music video “Derap yang Dinanti”. Mereka antara lain adalah Michael Aldi (Prodi Desain Komunikasi Visual 2016) dan Jeshica Melodya (Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga) selaku pencipta lagu dan penata musik, Joshua Axel (Prodi Desain Komunikasi Visual 2016) selaku sutradara, dan Luccas Wooden (Prodi Manajemen Pemasaran’16 UKP) serta Natasya Rachel (Prodi Ilmu Komunikasi 2016) selaku pemeran sekaligus penyanyi.

Short film yang menjadi favorit Chelsea Islan ini menceritakan tentang seorang pemuda yang lumpuh bernama Dion, sedang berjalan-jalan dengan sang adik. Tanpa disangka, Dion tiba-tiba menghilang dari pengawasan adiknya. Tak hanya adiknya, namun kekasih Dion juga ikut mencarinya hingga larut malam. Peran GO-JEK yang begitu dibutuhkan di era millenial ditampilkan pada short film ini. Akhirnya dengan bantuan Gojek, pertemuan antara Dion dan sang kekasih pun dapat terwujud dengan epic karena banyaknya usaha dan persiapan yang ada. Dari short film ini, Joshua Axel ingin menyampaikan pesan bagi para penyandang disabilitas bahwa meskipun mereka memiliki keterbatasan, mereka tidak boleh minder.

Berbeda dari short film yang berfokus pada tema disabilitas, music video Derap yang Dinanti bercerita tentang kisah cinta Dion dan Dinda. Kekaguman Jeshica pada sosok Dinda, kekasih Dion yang mandiri dan career oriented membawanya  mengambil sebagian sudut pandang Dinda dalam lirik lagu yang dibuatnya.

“Aku banyak melihat sosok Dinda yang penuh kesibukan sampai melupakan orang di sekitarnya. Intinya bahwa dengan hidup yang sudah tertata sedemikian rupa, significant others masih sangatlah penting.” Lirik ini kemudian diproses  Michael Aldi hanya dalam semalam! Pekerjaan yang mereka kira masih akan mendapat banyak revisi, ternyata disetujui begitu saja oleh personel lain.

Banyak hal seru yang terjadi selama proses pembuatan short film yang mencapai 15 ribu views ini. Pada pengambilan adegan Dinda yang mencari Dion di pasar, Rachel sebagai pemeran Dinda yang saat itu bertanya pada orang-orang di pasar tidak memberitahu mereka sebelumnya bahwa hal ini hanyalah akting saja. Hal ini dimaksudkan agar jawaban  orang-orang dapat terlihat natural.

“Dari sana aku jadi bisa lihat reaksi orang yang bermacam-macam ketika menghadapi aku yang kebingungan. Ada yang cuek, ada juga yang ikut kebingungan berujar, ‘Lho temennya kok bisa hilang’, hingga ada yang mengira aku akan melakukan tindak kriminal,” ujar Rachel ketika ditanya perihal netizen, mereka tidak mendapati adanya hate comments. “Palingan hanya teman-teman yang bercanda mengatai kita lebay saat berperan,” pungkas Lucas.

Setelah mendapat begitu banyak apresiasi pada short film, mereka akhirnya memutuskan  membuat lagu lengkap dengan music video-nya diluar lomba. Karena lagu yang dibuat untuk short film masih bait refrainnya saja dan personel pembuatnya masih dirasa kurang lengkap, akhirnya mereka memutuskan  mencari personel lainnya. Setelah pencarian mereka akhirnya terkumpullah sepuluh orang personel yang akan menggarap lagu dan music video berdurasi 7 menit 34 detik ini.

Dalam pembuatan lagu dan music video ini masing-masing personel menghadapi tantangan yang berbeda. Rachel dan Lucas misalnya, mereka berdua mengaku memiliki warna suara yang berbeda sehingga sulit untuk menggabungkan kedua suara mereka. Rachel sendiri memiliki jenis suara ballad, sedangkan Lucas memiliki jenis suara tenor. Uniknya, salah satu cara mereka mengatasi permasalahan ini  dengan bernyanyi sambil saling pandang. Cara ini meskipun terdengar ‘konyol’ tetapi cukup efektif bagi mereka.

Selain warna suara yang berbeda, Luccas juga mengaku untuk membawa mood ke dalam nyanyiannya juga menjadi tantangan tersendiri. Untuk mencapai hal ini Lucas bercerita bahwa dirinya sering duduk terdiam sendirian sebelum bernyanyi, hal ini membantunya membawa mood lagu kedalam nyanyiannya. Mereka pun berusaha “menjaga” pola makan agar kondisi suaranya terjaga. Proses mereka di dapur rekaman yang memakan waktu 3 hari penuh,  membuat mereka mempunyai rutinitas untuk selalu menyantap Indomie ayam geprek.

Pembuatan music video yang sempat booming bermunculan di Instagram story para mahasiswa UK Petra ini berlangsung dari bulan Januari hingga bulan Maret 2018. Siapa Sobat GENTA yang menyadari  pengambilan adegan kecelakaan ternyata dilakukan di poliklinik Gedung T UK Petra? Mereka semua harus menahan malu karena berkeliaran menggunakan baju tidur dan berlumuran darah palsu. Totalitas mereka tak berhenti disitu, Lucas bahkan rela harus mencukur bulu kakinya saat adegannya mengalami kecelakaan.

Semoga pencapaian teman kita kali ini dapat menginspirasi Sobat GENTA. Yuk, Sobat GENTA, jangan berhenti berkarya. Seperti kata Lucas, “Kalo sudah masuk ke dunia ini ya nggak boleh malu, kalo malu ya kapan berkaryanya.”

Tagged with:     , , ,

About the author /


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Feature

Majalah Kampus di Ambang Keterpurukan
Posted in: Feature

Majalah Kampus di Ambang Keterpurukan Oleh: Veronica Maureen Sebanyak 1000 eksemplar majalah GENTA dicetak setiap edisinya yang seharusnya menjadi sumber pengetahuan baru bagi seluruh sivitas, tak terkecuali mahasiswa. Dan mungkin, sudut pandang paling tepat dalam menentukan keberhasilan pembuatan GENTA adalah dengan menilai sejauh mana informasi dan pengetahuan yang dituliskan mampu diterima oleh seluruh sivitas. Rendahnya […]

Read More