Satmenwa 843 UK Petra Kawal Kunjungan Menkumham di GKI Diponegoro

Fotografer: Evandruce Filbert

Satmenwa 843 UK Petra Kawal Kunjungan Menkumham di GKI Diponegoro

Oleh: Denalyn T. Istianto & Alvin R. Wony’s

Pasca kejadian bom yang terjadi beberapa waktu lalu di Surabaya, sebagian besar rumah ibadah mendapatkan pengamanan yang lebih ketat dibandingkan sebelumya. Sebagai salah satu kekuatan sipil, Resimen Mahasiswa (Menwa) berbagai universitas ikut serta dalam pengamanan rumah ibadah. Tak terkecuali Satuan Resimen Mahasiswa (Satmenwa) 843 Universitas Kristen (UK) Petra. Selama beberapa minggu terakhir, Menwa UK Petra ditugaskan menjaga  jalannya ibadah di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro. Khususnya Minggu (3/6/2018), Menwa UK Petra juga mengoordinasi dan mengawal kunjungan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) di GKI Diponegoro.

Kunjungan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham)

Dalam kunjungannya, Menkumham Yasonna Hamonangan Laoly, SH., M.Sc., Ph.D. sempat memberikan dukungan moral dengan kata sambutan kepada para jemaat. Melalui sambutannya, Yasonna menceritakan tentang video yang viral di dunia maya, yaitu seorang anak kecil korban bom yang masih bisa menyanyikan puji-pujian tentang kebesaran Tuhan. “Kalau kebencian dan kemarahan dibalaskan dengan kebencian dan kemarahan, maka dunia tidak akan pernah aman dan tentram. Mahatma Gandhi mengatakan, ‘an eye for an eye, a tooth for a tooth makes the world blind and toothless’,” tuturnya. Yasonna menekankan, semua agama mengajarkan cinta kasih, dan perbedaan itu adalah suatu keindahan yang patut disyukuri. “Perbedaan yang Tuhan ciptakan itu yang membuat indah. Kalau bunga semua berwarna merah, tidak indah. Ada orang-orang di Indonesia yang sangat heterogen dari segi budaya, agama, warna kulit. Mulai dari Papua, hitam legam, keriting. Sampai ke Manado, putih seperti ubi kupas,” ujar pria kelahiran Sorkam, Tapanuli Tengah ini.  “Ada yang hidungnya mancung. Setengah mancung, agak ke dalam sedikit, ada juga,” kelakarnya.

Strategi pemulihan di GKI Diponegoro

Tak hanya dukungan moral dan bela rasa pihak eksternal, GKI Diponegoro memiliki cara tersendiri perihal pemulihan para jemaatnya. Hari ketiga pasca serangan, GKI Diponegoro menghadirkan tim trauma healing dari tim pernah menangani jemaat di Gereja St. Lidwina. Selain tim trauma healing, GKI Diponegoro juga menjadwalkan pertemuan-pertemuan konseling. Menurut Ketua Umum Majelis GKI Diponegoro Daniel Theophilus Hage, kerugian material berupa kerusakan fasilitas yang mereka dapatkan hampir tidak ada. “Bukan minim lagi, gerejaku malah tidak ada yang rusak. Kaca tidak ada yang pecah,” kata Daniel. Meski demikian, baginya trauma para jemaatlah yang patut diperhatikan. “Ada anak, setelah Minggu ledakan, hari Rabu dia baru mau ngomong. Jadi di rumah dua hari dia tidak ngomong,” kisah Daniel tentang salah satu jemaatnya. “Bahkan ada jemaat yang sampai sekarang belum ke gereja lagi,” tambahnya. Karena itulah saat ini GKI Diponegoro sedang fokus kepada penanganan secara teologis. Menurut Daniel, banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul seperti “di mana Tuhan?” atau “mengapa harus gereja kami?” yang timbul, dan ini harus dibahas secara teologis. Namun secara teknis, jadwal ibadah di GKI Diponegoro tidak berubah. Jumlah kehadiran jemaatpun tidak turun secara signifikan.

Meski demikian, pengamanan rumah ibadah termasuk GKI Diponegoro terus dilakukan. Menurut Vincent Prasetyo, Komandan Satmenwa 843 UK Petra, pengamanan Menwa berbagai universitas akan terus berjalan hingga akhir tahun 2018 mendatang, namun pengamanan ini masih berupa perintah lisan  Komandan Resimen Mahasiswa Jawa Timur.  Pengamanan yang Menwa dilakukan dengan sistem piket atau rolling ke beberapa gereja. Vincent menjelaskan, pengamanan kali ini tidak hanya bekerja sama dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI), tapi juga dengan beberapa pihak lainnya. “Kalau bekerja sama dengan Bonek, Banser NU (Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama, red), PSHT (Persaudaraan Setia Hati Terate,red) itu baru pertama kali,” ujar mahasiswa Program Studi (Prodi) Teknik Mesin angkatan 2015 ini. Tidak berhenti sampai di sini, selain GKI Diponegoro, rencananya Menwa UK Petra juga akan mengamankan Gereja Hati Kudus Yesus dan Gereja Kristen Jawi Wetan. Pengamanan tidak selalu dilakukan secara berseragam, namun juga dengan menggunakan kostum preman. Menwa UK Petra juga sempat memberikan materi tentang tindakan preventif dari terorisme khususnya bom kepada jemaat dan pemuda GKI Diponegoro, seperti langkah melakukan pengamanan sendiri menggunakan metal detector. Pemberian materi juga dilakukan bersama Komandan Rayon Militer Tegalsari untuk segi penanggulangan.

Khusus mengawal kedatangan Menkumham dan protokolernya Minggu kemarin, Menwa UK Petra bekerjasama dengan Menwa Universitas Bhayangkara, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, dan Universitas Negeri Surabaya. Menwa UK Petra juga ditugaskan di dalam ruangan, mengawal rapat koordinasi langsung bersama Menkumham dan protokoler.

Kedatangan Menkumham ke GKI Diponegoro adalah bentuk pengayoman yang baik kepada jemaat. “Semoga kedatangan Pak Menteri bisa menolong pemulihan trauma jemaat. Kembali beribadah dengan aman, tenteram, dan diayomi oleh hukum yang baik,” ujar Rachmat Harjono Tengadi, S.H., M.H., salah satu anggota Yayasan Perguruan Tinggi Kristen (YPTK) Petra yang kebetulan merupakan salah seorang jemaat GKI Diponegoro.

Menambah warna keberagaman hari itu, ibadah juga dihadiri oleh sejumlah tokoh Islam yang tergabung dalam Forum Beda tapi Mesra (FBM). Tak ketinggalan, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) Indah Kurnia, SE. ikut hadir dan bahkan sempat memberikan dua persembahan pujian.

“Jangan marah, jangan benci. Justru tunjukkan, kita harus mampu mengampuni dan mengasihi.” – Yasonna Hamonangan Laoly, SH., M.Sc., Ph.D., Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

About the author /


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Feature

Majalah Kampus di Ambang Keterpurukan
Posted in: Feature

Majalah Kampus di Ambang Keterpurukan Oleh: Veronica Maureen Sebanyak 1000 eksemplar majalah GENTA dicetak setiap edisinya yang seharusnya menjadi sumber pengetahuan baru bagi seluruh sivitas, tak terkecuali mahasiswa. Dan mungkin, sudut pandang paling tepat dalam menentukan keberhasilan pembuatan GENTA adalah dengan menilai sejauh mana informasi dan pengetahuan yang dituliskan mampu diterima oleh seluruh sivitas. Rendahnya […]

Read More