Peraih Juara ke-3 Epicentrum UNPAD

Peraih Juara ke-3 Epicentrum UNPAD

Oleh: Natania Wahyuni Tanihardjo

Kali ini, kami ingin menunjukkan salah dua Sobat GENTA yang baru-baru ini membanggakan almamater Universitas Kristen (UK) Petra dengan pencapaian prestasi mereka. Mereka adalah Alexander Gratianus dan Eunike Sara (Program studi (prodi) Desain Komunikasi Visual (DKV) angkatan 2015). Keduanya tergabung dalam satu tim yang berkompetisi di ‘Epicentrum’ yang merupakan festival komunikasi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran Bandung (UNPAD). Pada Epicentrum tahun 2017 yang mengusung “Integrated Marketing Campaign Pilkada” ini, mereka berdua berhasil meraih juara ketiga.

Keikutsertaan mereka di ajang ini pada awalnya dipenuhi oleh dilemma, karena keduanya juga sedang disibukkan dengan studi ekskursi di Jakarta. Deadline yang mepet membuat mereka tak jadi berpartisipasi bila memang tak ada perpanjangan batas waktu. Ternyata kenyataan baik memang berkehendak pada mereka, mereka berdua akhirnya bisa mengikuti lomba ini karena deadline yang di undur menjadi tanggal 31 Oktober.

Kompetisi ini ingin mengangkat problem masa kini, yaitu kemalasan anak muda untuk mengikuti pemilu. Anak muda memiliki kecenderungan untuk bersikap tidak peduli sehingga mereka tidak menggunakan hak pilih mereka. Padahal, hal tersebut juga bisa berdampak bagi seluruh masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, dalam perlombaan ini mereka ditantang untuk mengajak anak muda mengatasi permasalahan ini.

Penyisihan dilakukan secara online. Mereka menggunakan media Instagram untuk campaign ini. Campaign yang mereka lakukan menggunakan #CukupTau. Bagi mereka pilihan diksi yang multi-arti tersebut cukup ampuh untuk membuat anak muda kepo. Di Instagram ini, mereka memakai meme yang lucu untuk menganalogikan pilkada dengan kehidupan, misalnya hubungan percintaan. Di sini mereka juga mengadakan FAQ, Games, bahkan membuat clothing line “The Z Brand” sebagai media interaktif untuk mengenalkan pentingnya menggunakan hak pilih.

Terdapat 3 tipe pemilih, yang mungkin tidak diketahui banyak orang. Pemilih ini terbagi menjadi swing voters, apathetic voters, dan smart voters. Lewat games MBTI di story Instagram, orang bisa mengetahui mereka masuk kategori yang mana.  Quotes lucu juga sering mereka ungkapkan lewat brand yang mereka usung demi menyampaikan message kampanye tersebut. Dengan cara asyik ini, pesan bisa disampaikan dengan lebih mudah pada anak muda.

Tentu mereka mendapat kesulitan saat mengikuti lomba ini. Briefing saat final yang mirip dengan briefing pertama sempat membuat mereka bingung mencari konsep yang baru, apalagi dengan keterbatasan waktu. Namun mereka melakukannya dengan sepenuh hati, hingga Alex dan Eunike sama sekali tidak membayangkan kemenangan mereka di IMC melihat kontestan lain yang kreatif dan mempunyai ide-ide keren.  Banyaknya pelajaran dan pengalaman yang mereka dapat dari kompetisi ini membuat mereka rela bila harus pulang tanpa hadiah. “Jangan nunggu tua buat ikut lomba. Gaada salahnya ikut lomba dari tahun kedua. Dari ikut lomba, secara tidak sengaja kita bisa berproses menjadi lebih baik. Dengan seringnya kita ikut lomba, kita bakalan tahu karateristik masing-masing lomba dan juri. Hitung-hitung kita juga dapat pengalaman sekaligus portofolio,” ujar Eunike. “Pokoknya ngide dulu, eksekusi kemudian,” tambah Alex.

Kemenangan mereka ini tak lepas dari bimbingan Deddi Duto, dosen DKV III. Beliau selalu mendorong anak-anak untuk ikut lomba.

Quotes yang mereka pegang selama kompetisi, “Say no to nay sayers.” Bekerja di bidang advertising memang bukanlah hal yang mudah. Tentunya akan ada ejekan mengenai iklan yang dibuat. Namun, ejekan tersebut seharusnya tidak dimasukkan ke hati, melainkan menjadi masukan untuk karya selanjutnya. Bahkan, bisa saja ejekan malahan membuat viral karya yang dibuat.

Sobat GENTA jangan mau kalah dengan mereka yang sudah berprestasi. Sudah sepatutnya kita mengikuti rekam jejak mereka!

About the author /


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Feature

Majalah Kampus di Ambang Keterpurukan
Posted in: Feature

Majalah Kampus di Ambang Keterpurukan Oleh: Veronica Maureen Sebanyak 1000 eksemplar majalah GENTA dicetak setiap edisinya yang seharusnya menjadi sumber pengetahuan baru bagi seluruh sivitas, tak terkecuali mahasiswa. Dan mungkin, sudut pandang paling tepat dalam menentukan keberhasilan pembuatan GENTA adalah dengan menilai sejauh mana informasi dan pengetahuan yang dituliskan mampu diterima oleh seluruh sivitas. Rendahnya […]

Read More