Pentas Akbar Teater Rumpun Padi: Hidup Untuk Menghidupi

Fotografer: Boby K.

Pentas Akbar Teater Rumpun Padi: Hidup Untuk Menghidupi

Oleh: Natania Wahyuni T

“Mesin jahit itu berputar kencang, pelan, kemudian kencang lagi. Berirama sesuai gerakan penjahitnya.”

Kamis, 24 Mei 2018, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Rumpun Padi menyelenggarakan Pentas Akbar bertema “Hidup untuk Menghidupi.” Pementasan ini diadakan di Auditorium Universitas Kristen (UK) Petra pada pukul 18.30. Dibuka dengan pembacaan puisi “Sajak Subuh” karya Sapardi Joko Darmono oleh Anastasya, lalu dilanjutkan dengan monolog tua Cynthia Caca. Tak berhenti disitu, sebelum sampai pada penampilan utama, Senior Kurang Berpengalaman (SKB), grup indie yang baru dibentuk turut menampilkan nyanyian lucu dan menghibur mereka sambil bergantian bernyanyi dan memainkan gitar.

Pementasan kali ini ingin menunjukkan bagaimana sepatutnya manusia dapat saling membantu. Seperti halnya Kang Mus, lakon dalam kisah “Deru Angkuh Mesin Jahit” yang membiayai Sugeng, asistennya dan seorang yang gila. Ia selalu menjadi penasehat yang baik pada Sugeng yang berulang kali menyampaikan keinginannya untuk keluar dari pekerjaannya. Sugeng sudah didesak Lisa, kekasihnya untuk mencari pekerjaan yang berpendapatan lebih besar.

“Dasar manusia tak waras yang tidak bisa bersyukur. Manusia yang berada diatas biasanya tak bisa melihat ke bawah, malahan dikejar-kejar napsu. Pekerjaanmu akan mengubah karakter, menjadikanmu penyembah uang. Perasaanmu hanya terisi iri hati dan kecurangan. Relasimu sebatas sikut-sikutan. Bagaimanapun, faktor berkecukupan itu tergantung pemahaman kita masing-masing.” Namun, di akhir cerita Sugeng benar-benar berhenti dari pekerjaannya.

Seperti biasanya, Teater Rumpun Padi memberi kalimat-kalimat menggelitik yang menyindir keadaan masa kini. Orang gila yang dibiayai Kang Mus berulang kali menyatakan, “Aku bebas berpikir. Aku bebas bicara. Aku bebas mau ngapain karena aku orang yang merdeka. Aku ini seperti kucing biasa, bukan kucing angora.”

Di akhir acara, wakil rektor bidang kemahasiswaan, R. Arja Angka A.A.A. Sadjiarto, S.E.,M.Ak. menunjukkan apresiasinya terhadap pementasan malam itu. Ternyata, Arja merupakan teman lama dari sang sutradara pentas akbar, Abednego Bejo Sugiyono. Keduanya berharap, kedepannya akan muncul acara-acara seperti pentas akbar ini yang muncul sebagai bukti mahasiswa melihat problema sekitar.

Bagaimanapun, apapun pekerjaan kita, Sobat GENTA jangan lupa bahwa tugas manusia adalah saling membantu satu sama lain!

About the author /


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Feature

Majalah Kampus di Ambang Keterpurukan
Posted in: Feature

Majalah Kampus di Ambang Keterpurukan Oleh: Veronica Maureen Sebanyak 1000 eksemplar majalah GENTA dicetak setiap edisinya yang seharusnya menjadi sumber pengetahuan baru bagi seluruh sivitas, tak terkecuali mahasiswa. Dan mungkin, sudut pandang paling tepat dalam menentukan keberhasilan pembuatan GENTA adalah dengan menilai sejauh mana informasi dan pengetahuan yang dituliskan mampu diterima oleh seluruh sivitas. Rendahnya […]

Read More