Pendapat mereka para Student Exchange dari mancanegara

UNIVERSITAS KRISTEN PETRA: APA KATA ORANG DI LUAR?

Sudah menjadi rutinitas jika Universitas Kristen (UK) Petra kedatangan beberapa mahasiswa dari luar negeri yang hendak belajar di sini. Mereka adalah student exchange dari mancanegara yang menempuh pendidikan di UK Petra. Bagaimana pengalaman mereka selama berkuliah di UK Petra? Yuk, kita simak bersama!

Relinde

Adanya kerja sama UK Petra dengan kampusnya menjadi alasan utama Relinde memilih UK Petra dalam program pertukaran pelajar. Tak hanya itu, Relinde mengaku ia suka berlibur ke Asia. “Tidak ada yang mengajak saya ngobrol karena saya berbeda,” ungkap perempuan asal Belanda tersebut. Walau begitu, ia mengaku, mahasiswa yang tergabung dalam Petra Mate ramah padanya. Sebagai contoh, saat ia tidak mengetahui letak ruangan di UK Petra, anggota Petra Mate tidak segan memberi bantuan.

Saat berkuliah di UK Petra, Relinde mengambil 4 kelas International Business Management serta 3 kelas English Department. “Selama di Belanda saya belajar pariwisata, hanya saja saya tidak yakin bahwa jurusan pariwisata UK Petra dapat menerima saya,” ungkap wanita berambut pirang tersebut. Walau begitu, Relinde tidak menyesal atas keputusannya dalam mencoba belajar hal baru. Tak ada kesusahan yang berarti pula karena pelajaran disampaikan dalam bahasa Inggris.

Selama menjalani masa perkuliahan di UK Petra, Relinde merasa persaingan dalam pelajaran bisa dikatakan ketat. “Semua mahasiswa tampak berlomba mengejar prestasi yang bagus,” tuturnya sambil tertawa. “Padahal di kampus saya, mahasiswa saling membantu antara satu dan lainnya tanpa terlalu berfokus pada hasil akhir atau nilai yang diperoleh,” imbuhnya. Saat ditanya mengenai kunjungan berikutnya, Relinde berkata bahwa ia tidak terlalu ingin kembali ke UK Petra. Sebenarnya ia cukup menyukai UK Petra, hanya saja ia tidak menyukai cuaca yang panas serta jalanan yang padat.

 

Momoko,

Sama halnya dengan Relinde, Momoko yang berasal dari Jepang awalnya juga merasa sedikit kesulitan beradaptasi di lingkungan yang baru. Ia bingung saat harus mencari taksi online dan memesan makanan. “Saat keadaan seperti itu, biasanya saya bertanya pada mahasiswa anggota Petra Mate,” tutur gadis pecinta kopi tersebut. Momoko memilih berkuliah di UK Petra karena ia ingin belajar bahasa Indonesia lebih baik. Menurutnya, banyak mahasiswa UK Petra dapat berbahasa Inggris sehingga mereka dapat mengajarinya bahasa Indonesia.

Selama masa student exchange, Momoko mengambil kelas English Department, sama seperti saat ia di Jepang. Bagi Momoko, lebih mudah mempelajari bahasa Indonesia apabila ia fasih berbahasa Inggris. Selain itu, jumlah mahasiswa dalam English Department tergolong sedikit sehingga memudahkannya bersosialisasi. “Jumlah mahasiswa yang sedikit membuat saya lebih mudah bila ingin bertanya pada dosen. Berbeda dengan saat di Jepang, yang satu kelasnya bisa diisi kurang lebih seratus murid,” lanjutnya.

Saat ditanya mengenai kunjungan berikutnya, Momoko tampak antusias. Sebenarnya ia ingin berkunjung lagi ke UK Petra, namun Momoko harus kembali ke Jepang untuk mencari pekerjaan. Di Jepang, apabila seorang mahasiswa sudah lulus justru akan mengalami susahnya mencari pekerjaan. Oleh karena itu, Momoko harus mulai mencari pekerjaan selagi ia belum lulus kuliah.

 

Peng Ru Yu,

“Kedatangan saya awalnya tidak didukung orang tua,” demikian kata Peng Ru Yu, mahasiswi asal Taiwan yang kini tengah menjalani studinya di Universitas Kristen (UK) Petra dalam program student exchange. Motivasinya datang ke Indonesia adalah mencari pengalaman dan mengeksplor dunia, namun awalnya kedua orang tuanya tidak mengizinkan. Mahasiswi yang lebih akrab dipanggil Vicky ini sudah berkuliah selama 3,5 tahun di Taiwan sebelum akhirnya memutuskan ikut dalam program student exchange ke UK Petra. Ia memilih UK Petra karena berdasarkan informasi yang ia dapatkan, UK Petra adalah salah satu universitas swasta terbaik di Indonesia.

Selama berada di UK Petra, Vicky mengambil Program Studi (prodi) Sastra Inggris. Selama berkuliah di negara asalnya, Vicky adalah mahasiswi prodi aviation and maritime management. Sedikit universitas di Indonesia yang menyediakan prodi ini, termasuk UK Petra. Karena itulah Vicky memilih prodi Sastra Inggris selama belajar di UK Petra.

Bahasa sempat menjadi kesulitan bagi Vicky dalam beradaptasi. Ia mengaku, hingga sekarang, ia belum berani menggunakan Bahasa Indonesia. Selain itu, tidak banyak yang berinisiatif membantunya selama masa adaptasinya, sehingga ia lebih sering berusaha sendiri. Namun hal itu tidak menjadi masalah untuknya.

“Sistem di sini sangat berbeda dengan di Taiwan,” tuturnya. “Misalnya pada masa ujian. Di Taiwan, ujian kami tetap berada pada jam kelas biasa, tidak seperti di sini yang dibuatkan jadwal sendiri,” jelasnya. Ia mengaku merasa sedikit kebingungan melihat jadwal ujiannya. Selain itu, Vicky juga merasa kesulitan mendapatkan informasi karena ia harus terus bertanya sama seperti mahasiswa lainnya. Vicky merasa bahwa pengalamannya di sini adalah pengalaman yang baik, dan ia tentu mau datang jika diberikan kesempatan kedua. “Saya mulai berpikir, mengapa saya tidak datang lebih awal,” katanya. Ia akan dengan senang hati datang kembali jika punya waktu.

About the author /


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Feature

Majalah Kampus di Ambang Keterpurukan
Posted in: Feature

Majalah Kampus di Ambang Keterpurukan Oleh: Veronica Maureen Sebanyak 1000 eksemplar majalah GENTA dicetak setiap edisinya yang seharusnya menjadi sumber pengetahuan baru bagi seluruh sivitas, tak terkecuali mahasiswa. Dan mungkin, sudut pandang paling tepat dalam menentukan keberhasilan pembuatan GENTA adalah dengan menilai sejauh mana informasi dan pengetahuan yang dituliskan mampu diterima oleh seluruh sivitas. Rendahnya […]

Read More