Kisah Mereka, Para Motor Penghidup WGG #DivisiAcara

Kisah Mereka, Para Motor Penghidup WGG

Oleh Regina Bella Rosari

Motor penghidup Welcome Grateful Generation (WGG)? Wah, tebak, divisi apa ya? Kalau kalian menjawab divisi acara, yup, tepat sekali! Ketika WGG berlangsung, divisi ini mudah terdeteksi dengan map maupun ban warna oranye yang menempel pada tangan anggotanya.

Passion. Kalau dibilang repot, repot banget sebenarnya. Apalagi, selama persiapan WGG dibarengi dengan kuliah, persiapan magang, dan freelance di luar. Tapi, apa yang didapat di WGG worth it dengan perjuangannya,” tutur Oktavianus Filemon, Koordinator Divisi Acara WGG 2017. Alasan itu pulalah, yang menguatkannya hingga ‘ketagihan’ menjadi panitia WGG selama tiga tahun berturut-turut.

Segala jerih payah dari Divisi Acara terbayar sudah dengan hasil yang tampil selama pelaksanaan WGG. Setiap pagi, briefing telah dilakukan pada pukul empat pagi dan selalu diawali dan diakhiri dengan doa bersama. Setelah itu, tepat pukul lima semua anggota harus sudah standby di posnya masing-masing karena pada pukul enam mahasiswa baru (maba) sudah datang. Yup, tentu hasil manis yang dituai, berupa kesuksesan acara WGG.

Pembagian tugas menjadi kunci yang penting dalam divisi ini. Setiap orang pasti mendapatkan tugas. For your information, guys, Divisi Acara-lah yang menjadi person in charge (PIC) serta time keeper di setiap lokasi pelaksanaan WGG ini.

Mahasiswa yang akrab disapa Filemon ini mengakui, tidak hanya pengalaman saja yang didapatnya. Tetapi, juga teman-teman yang menjadi keluarga baru. Namun, titik jenuh pun sempat menghinggapinya. “Tuhan selalu buka jalan, aku mengalir bersama proses karena aku yakin Tuhan tidak pernah salah saat menempatkan,” katanya.

Senada dengan koordinatornya, Gabriela Clara dan Brigitta Sally merasa puas dengan WGG yang telah terlaksana. Walau proses yang dilaluinya tidak mudah dan melelahkan, perjuangannya terasa worth it saat WGG telah berakhir. “Seperti ikut WGG lagi, bedanya bagun subuh dan tidur larut untuk mempersiapkan acara untuk hari H dan keesokan harinya,” kata Brigitta. Sedangkan Gabriela, PIC Closing WGG 2017, mengaku bahwa ia belajar banyak hal dari WGG. “Tidak hanya belajar tentang kepanitiaan, tetapi juga berhubungan dengan banyak orang yang, mulai dari mahasiswa hingga pengisi acara di luar sivias akademika UK Petra.”

About the author /


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Feature

Majalah Kampus di Ambang Keterpurukan
Posted in: Feature

Majalah Kampus di Ambang Keterpurukan Oleh: Veronica Maureen Sebanyak 1000 eksemplar majalah GENTA dicetak setiap edisinya yang seharusnya menjadi sumber pengetahuan baru bagi seluruh sivitas, tak terkecuali mahasiswa. Dan mungkin, sudut pandang paling tepat dalam menentukan keberhasilan pembuatan GENTA adalah dengan menilai sejauh mana informasi dan pengetahuan yang dituliskan mampu diterima oleh seluruh sivitas. Rendahnya […]

Read More