Kepalsuan Dunia Virtual

Ilustrator: Torinaga Anugroho

Kepalsuan Dunia Virtual

Oleh: Gabriele Tjiphanata

“We struggle with insecurities because we compare our behind-the-scene with everyone else highlight reel”

Steven Furtrick

Media sosial merupakan inovasi revolusi yang mengijinkan setiap orang untuk berbagi memori berupa tulisan, foto, dan video. Mulai dari berbisnis hingga berbagi tentang sebuah cerita kehidupan. Terdengar sederhana bukan? Namun, apakah sobat GENTA sadar bahwa ada sisi gelap dari media sosial? Terdapat tipikal internal monolog mengenai social media scroll yang mempertanyakan kebahagiaan dan eksistensi diri. Internal monolog yang disebut juga self-talk atau ucapan batin adalah ucapan suara batin seseorang yang memberikan pikiran monolog verbal dalam keadaan sadar, terkait dengan perasaan seseorang. Sebuah monolog yang ada pada setiap orang, namun tak pernah terpikirkan dan terbayangkan. Bahkan, banyak dari kita tak menyadari bahwa hal ini sedang terjadi.

Rasa candu terhadap media sosial kerap menjadi masalah utama dari kesehatan mental seseorang. Menurut penelitian Dabi-Ellie Dube mengenai Social Media Addiction Linked to Mental Health, menemukan bahwa semakin lama seseorang bermain di dunia media sosial, semakin rentan pula dirinya terhadap isu kesehatan mental. Hasil eksperimen studi lainnya juga menunjukkan bahwa kisaran umur 19-32 tahun yang menggunakan media sosial secara intens akan 2,7 kali lebih rentan merasakan depresi dibandingkan dengan mereka yang lebih jarang memeriksa media sosialnya.

Fenomena media sosial sekarang menjadi semakin abu-abu, identitas asli dan identitas virtual menjadi sangat kabur. Tanpa kita sadari, media sosial telah merenggut sebagian dari jiwa kita. Media sosial yang fungsi awalnya menjadi forum pertukaran informasi malah menjadi ajang pertunjukkan kualitas hidup dan kepribadian yang tak benar-benar nyata. Adanya keinginan untuk menunjukkan sebuah validasi diri dengan mempertaruhkan separuh jiwa ke dalam media sosial untuk mendapatkan sebuah ‘kasih sayang’ yang datang dari like, followers, dan subscribers. Menurut data dari Vice Indonesia, beberapa remaja mengglorifikasi gangguan mental sebagai sesuatu yang keren di media sosial untuk mendapatkan perhatian. Sebaliknya, seseorang yang mungkin terlihat sempurna dan bergelimang harta di media sosial ternyata menyembunyikan berbagai gejolak depresi dalam dirinya. Tersenyum melihat kamera, namun merasa bersalah dan gelisah karena banyak hal yang harus disembunyikan dari publik.

Sebuah forum TEDxTalkshow, memberikan empat faktor terjadinya rasa candu terhadap media sosial yang bisa berujung pada gangguan mental akut yaitu, Highlight reel, Social Currency, Fear Of Missing Out (F.O.M.O) dan Online Harassment.

Pertama, Highlight reel merupakan fenomena yang mengkoleksikan momen terbaik dan terindah dalam keseharian hidup. Hal ini dapat menyebabkan kecemasan karena dapat menimbulkan sikap pembandingan diri dengan highlight reel orang lain. Berusaha menunjukkan momen terbaiknya di media sosial, padahal tak benar-benar menikmati momen tersebut. Sering membandingkan diri sendiri yang sedang duduk manis menonton acara tv dengan orang yang sedang berlibur ke luar negeri.

Kedua, Social Currency merupakan fenomena yang memberikan peluang untuk orang lain menilai diri kita. Hal ini terlihat ketika seseorang menghapus foto instagramnya karena tidak mendapat like yang diinginkan atau respon yang diharapkan. Hal ini mengarah pada keraguan identitas diri yang berusaha untuk menyamakan harga diri dengan apa yang orang lain inginkan. Mengambil beratus-ratus foto dan menunggu waktu yang tepat untuk mengunggahnya agar mendapat pengakuan publik.

Ketiga, Fear of Missing Out, merupakan ketakutan akan hilangnya sebuah potensi koneksi, acara, dan kesempatan. Penelitian Canada University menemukan bahwa 7/10 mahasiswa tak ingin meninggalkan media sosial karena takut eksistensi dirinya hilang.

Keempat, Online harassment, merupakan fenomena dimana terdapat beberapa orang yang menghujat dan melakukan kekerasan verbal di media sosial. Menurut data Pew Internet Research, 40% orang dewasa pernah mengalami kekerasan verbal di media sosial, 73% orang melihat korban kekerasan verbal media sosial.

Berdasarkan media sosial, kita telah merasakan substansi dependensi. Dengan satu like, kita merasa ada satu suntikan dopamin yang ampuh untuk merasakan kebahagiaan. Dopamin merupakan senyawa kimiawi di otak yang berperan menyampaikan rangsangan ke seluruh tubuh, dopamin juga disebut sebagai hormon pengendali emosi yang dapat meningkatkan suasana hati menjadi gembira dan senang. Hal ini menyebabkan seseorang cenderung terus mengecek like dan terus mengunggah sebuah momen terbaik dan terindah. Hal-hal seperti ini tak terlalu menjadi perhatian publik karena mungkin dianggap berlebihan. Namun, faktanya sebuah momen mikro yang terus terjadi secara berulang-ulang akan menjadi masalah makro yang fatal.

Jadi sobat GENTA, jangan mau terjebak dan terjerumus dalam kepalsuan dunia virtual ya! Kita harus bisa memilah konten media sosial dengan bijak sehingga tidak membawa malapetaka bagi diri kita sendiri.  

Tagged with:     ,

About the author /


Avatar