Kata Mereka Tentang Dunia Komunikasi

Fotografer: Yeremia Tulude Ambat

Kata Mereka Tentang Dunia Komunikasi

Oleh: Regina Bella Rosari dan Veronica Maureen

Talkshow and Proactive Class (TPAC) 2018 baru saja digelar Kamis (17/5/2018). TPAC diselenggarakan sebagai rangkaian perayaan Dies Natalies Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi Universitas Kristen (UK) Petra. Bertajuk ‘Brace the Movement’, hadir lima orang sebagai pembicara, yaitu Fajar A. Isnugroho yang pernah menjabat sebagai Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Timur 2007-2013 dan Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Pusat 2013-2016), Silih Agung Wasesa, S.Psi., M.Si. yang merupakan pendiri Asia PR dan Konner Digital Advisory), Johan Budi Sapto Prabowo yang merupakan juru bicara Kepresidenan), Alfito Deannova Gintings yang menjabat sebagai Direktur CNN Indonesia), dan Gatut Priyowidodo, M.Si., Ph.D. yang merupakan pengamat kebijakan publik, anggota Asosiasi Profesor Departemen Ilmu Komunikasi, sekaligus dosen aktif Prodi Ilmu Komunikasi UK Petra. Sebelum TPAC dimulai, Pers Mahasiswa (PERSMA) mendapatkan kesempatan istimewa untuk berbincang sejenak dengan beberapa pembicara.

Menurut Fajar, kegiatan semacam ini dapat menjadi pencerahan bagi mahasiswa. Apalagi, tema yang diangkat sesuai dengan dunia komunikasi yang dinamis. Senada dengan Fajar, Johan pun mengiyakan adanya perkembangan dalam dunia komunikasi. Komunikasi saat ini tidak lagi berada ‘di belakang layar’, tetapi ‘di depan layar’. “PR (Public Relations, red) saat ini tidak lagi sangat konvensional seperti zaman saya dulu,” kata Johan.

Kini, media mainstream bukan lagi menjadi satu-satunya sumber informasi. Yang mengkhawatirkan, media mainstream malah mengutip apa yang beredar di media sosial sebagai bahan beritanya. Tidak hanya itu, media sosial saat ini juga berfungsi sebagai ruang komunikasi publik yang paling banyak dimanfaatkan publik. Bahkan, Jurnalis Asia Pasifik menobatkan Indonesia sebagai negara yang paling bebas dalam penggunaan media sosial di seluruh dunia. Kebebasan berpendapat di media sosial sebenarnya sudah dimulai di awal reformasi.

“PR saat ini harus terampil. Media on air dan media online harus diperhatikan. Artinya, kecepatan PR untuk mengantisipasi hal-hal yang perlu di backup dengan baik. Kalau tidak, maka akan kewalahan,” ujar Fajar. Hal ini disebabkan kecepatan publik dalam bermedia yang menimbulkan banjir informasi. Sebagai seorang PR, harus mampu bertindak cepat, baik untuk  kepentingan PR sekaligus kebutuhan media. Terlambat sedikit saja, media dapat tidak terkontrol. Oleh karena itu, kemampuan berkomunikasi sangat penting bagi PR.

Fajar berpendapat, saat ini perlu dibentuk Undang-Undang terkait Konvergensi Media. “Kalau urusan penyiaran diawasi KPI, urusan media cetak dan jurnalistik diawasi Dewan Pers, kemudian bagaimana dengan media online kita? Siapa yang mengatur ataupun mengawasi masalah konten?” Fajar menambahkan. Sampai saat ini, memang belum ada undang-undang yang mengatur konten di media sosial.

Terkait dengan penggunaan media sosial oleh generasi milenial, Johan setuju dengan pesan yang disampaikan Presiden Joko Widodo. “Gunakan media sosial dengan cara yang santun, jangan digunakan sebagai tempat penyebaran ujaran kebencian maupun fitnah. Kedua, jangan cepat menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Sekarang sudah ada juga komunitas anti hoax, yang dapat menjadi pegangan generasi milenial,” pesan Johan. “Dunia berubah sangat cepat, maka mahasiswa juga harus berubah, baik cara berpikir, cara memandang, dan cara bersikap. Mahasiswa harus memahami siapa audiensnya, medianya apa, dan harus bagaimana sebagai komunikator. Kalau tidak, maka akan dilindas perubahan zaman,” tambah Fajar. “Pola komunikasi tetap sama, seperti komunikasi tatap muka. Media sosial hanyalah sebagai wahana mendekatkan orang. Media sosial jangan dijadikan sebagai tempat menutup identitas kita. Tingkat verifikasi dan skeptisisme terhadap apa yang ada di media sosial harus sama seperti komunikasi tatap muka,” Alfito melengkapi.

Nah, bagaimana Sobat GENTA? Sudah semakin mengenal dunia komunikasi? Setelah semakin mengenal, jangan lupa terapkan pesan-pesan yang telah disampaikan Johan, Fajar, dan Alfito. Apalagi, terkait media sosial. Ingat, bijaklah dalam memanfaatkan media sosial!

About the author /


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Feature

Majalah Kampus di Ambang Keterpurukan
Posted in: Feature

Majalah Kampus di Ambang Keterpurukan Oleh: Veronica Maureen Sebanyak 1000 eksemplar majalah GENTA dicetak setiap edisinya yang seharusnya menjadi sumber pengetahuan baru bagi seluruh sivitas, tak terkecuali mahasiswa. Dan mungkin, sudut pandang paling tepat dalam menentukan keberhasilan pembuatan GENTA adalah dengan menilai sejauh mana informasi dan pengetahuan yang dituliskan mampu diterima oleh seluruh sivitas. Rendahnya […]

Read More