|
|
|
|
"SAYA
SEMPAT MENANGIS……"
(Sekilas profil Sekjend SMU-UKP periode 1999-2000)
Suka
tertawa dan membuat orang tertawa adalah ciri khas yang paling
menonjol dari cowok kelahiran 15 Juli 1977 ini. Penggemar
nasi goreng Medan bernama Hardi Kusnadi, mahasiswa Teknik
Sipil '95 ini dipercaya untuk memegang jabatan Sekjend SMU
periode 1999-2000, setelah meniti jenjang di Himasitra sebagai
anggota Divisi Profesi (96), wakil ketua (97) dan ketua Hima
(98). Sebagai Sekjend, ia ingin menjadikan SMU sebagai motor
bagi para mahasiswa agar mau menyikapi realita berupa ketimpangan-ketimpangan
yang terjadi di kampus ini. Contoh sederhana saja, berapa
komputer di Puskom yang disediakan untuk mahasiswa mengerjakan
tugas atau nge-print? Sudah begitu, sewa dan bayarnya sangat
mahal. Bandingkan dengan penyediaan komputer untuk internet
gratis. Sebenarnya mana yang lebih penting? Dengan beraktivitas,
banyak ketimpangan yang akan dibeberkan, dan kita harus mengkritisinya
Ia juga melihat banyaknya mahasiswa yang protes ke Hima
atau Senat mengenai dosen atau masalah nilai, namun jika
ditanggapi dan diajak maju bersama, nyali mereka jadi ciut.
"Banyak yang tidak berani, jadi agak sia-sia juga kita perjuangkan..…"
katanya prihatin. Sosok pemimpin kita ini punya satu impian,
yaitu ingin melihat mahasiswa Petra yang kritis, tidak apatis
seperti realita yang ada sekarang. Itulah sebabnya ia merasakan
ada perbedaan pola pikir berkat terjun dalam aktivitas kemahasiswaan.
Kedewasaan, kekritisan, dan pemikiran yang lebih terpeta
merupakan keuntungan yang diperoleh melalui lembaga mahasiswa.
"Suka dukanya juga banyak, termasuk risiko studi menjadi
molor. Bagi saya sih tidak masalah, sebab saya berprinsip
bahwa kita masuk Petra tidak sekedar kuliah saja, tapi juga
mencari kemampuan lain. Meski IPK 4 tapi kemampuan lain
tidak ada, ya percuma saja. Bukankah lebih baik kalau IP
bagus ditunjang hal-hal lain yang bermanfaat?"
Sebagai
aktivis yang sudah empat tahun malang-melintang di dunia
lembaga dan kepanitiaan, tentu banyak pengalaman yang berkesan.
Bagi Hardi, yang paling berkesan baginya ada dua, yang ekstern
adalah ketika mengikuti TIMTI di Jakarta. "Wah, baru kali
itu saya lihat peserta sidang mengacungkan badik mengancam
pimpinan sidang, suasananya langsung jadi beku". Yang intern
adalah waktu acara Welcome to Serve Petra tanggal 20 Agustus
1999 lalu, dimana ia merasa begitu tersentuh karena ada
250-an maba yang rela menyediakan dirinya untuk melayani
sebagai aktivis setelah melalui proses PTPAMB dan diajak
melihat realita kampus ini. "Selama 4 tahun saya kerja untuk
Tuhan di UKP, hasil yang jelas itu belum terlihat. Baru
kemarin itu nampak jelas hasil jerih payah kita semua, dan
saya sangat bersyukur karenanya. Waktu itu saya sempat menangis
karena terharu…."
|
|