It’s Okay to Talk About Mental Health Issues

Ilustrator: Florencia Evangeline S.

It’s Okay to Talk About Mental Health Issues

Oleh: Nikita Luisa

“Mental health needs a great deal of attention. It is the final taboo and it needs to be faced and dealt with.” – Adam Ant

Di suatu universitas ternama, hiduplah mahasiswi A. A tipe gadis pekerja keras, namun punya kecenderungan untuk overthinking. Sekilas, A nampak baik-baik saja. Kehidupan pergaulannya menyenangkan, IPK-nya juga lumayan, followers instagram-nya mencapai seribu dan bahkan ketika di kampus, A aktif mengikuti kegiatan kemahasiswaan. Dalam sekali lihat, kebanyakan orang akan beranggapan bahwa hidup A baik-baik saja tanpa masalah yang berarti.

Namun, hal itu tidak menutup kemungkinan bahwa A mengalami gangguan kesehatan mental. Tanpa disadari banyak orang, A sering menangis di rumah dan di mobilnya. A tidak punya siapapun yang bisa ia ajak bicara. A sendiri tidak merasa hidupnya baik-baik saja. Dikarenakan image yang ia miliki di depan orang-orang, A tidak bisa berkata jujur mengenai apa yang benar-benar ia rasakan. Seiring waktu berjalan, A memupuk semuanya sendiri dan sering merasa cemas sendirian, sehingga pada akhirnya ia sendiri tidak menyadari bahwa dirinya telah terjangkit salah satu penyakit cabang dari gangguan mental, yakni depresi akut.

Sebenarnya, apa itu gangguan mental? Mungkin arti dari istilah tersebut masih asing di telinga sebagian dari Sobat GENTA. Dilansir oleh World Health Organization (WHO), gangguan mental merupakan pola psikologis yang terkait dengan stres atau kelainan jiwa yang tidak dianggap sebagai perkembangan normal. Gangguan mental sendiri memiliki banyak cabang penyakit, misalnya depresi, bipolar, gangguan kecemasan, autisme, dan sebagainya. WHO memperkirakan 4,4% populasi global menderita depresi dan 3,6% mengalami gangguan kecemasan. Kebanyakan orang cenderung mengartikan gangguan mental sebagai suatu hal yang tabu, suatu hal yang memalukan untuk diungkit, tetapi memberitahu kepada orang sekitar bisa jadi merupakan salah satu cara agar bisa mendapatkan pertolongan secepat mungkin. Mengalami gangguan mental tidak berarti orang tersebut gila. Gangguan mental dapat memberikan dampak yang sama besarnya dengan sakit pada fisik tiap individu.

Riset Kesehatan Dasar yang dilakukan oleh Kementrian Republik Indonesia menyimpulkan bahwa prevalensi ganggunan mental emosional yang menunjukan gejala depresi dan kecemasan, usia 15 tahun ke atas mencapai sekitar 14 juta orang atau 6% dari jumlah penduduk Indonesia, yang berarti bahwa remaja dan orang dewasa seperti kita justru cenderung lebih mudah terkena gangguan mental emosional seperti depresi dan gangguan kecemasan. Coba perhatikan baik-baik, apakah Sobat GENTA sering menghindar dari interaksi sosial? Apakah Sobat GENTA sering merasa tidak ada yang mengerti keadaan anda? Apakah Sobat GENTA sering merasa cemas berlebihan? Kalau jawaban dari kebanyakan pertanyaan diatas adalah ya, maka ada kemungkinan besar Sobat GENTA tengah melangkah perlahan menuju gangguan kesehatan mental tahap ringan.

Sebagai salah satu konselor yang berpengalaman di Pusat Konseling dan Pengembangan Pribadi (PKPP) Universitas Kristen (UK) Petra, Stefani Sutedjo, S.Psi., MAKP berujar bahwa mahasiswa generasi milenial yang sekarang ini jauh lebih rentan terkena depresi karena masalah-masalah yang dihadapi. Ia juga mengungkapkan bahwa individu dengan sejarah keturunan penyakit gangguan mental, memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk terkena penyakit gangguan mental daripada yang tidak memiliki sejarah keturunan penyakit tersebut. Meski demikian, hal itu tidak menutup kemungkinan orang-orang yang tidak memiliki sejarah keturunan penyakit gangguan mental untuk mengalami hal yang sama.

Cukup sulit untuk mendeteksi gangguan mental pada tiap individu karena kebanyakan orang masih menganggap hal ini sebagai sesuatu yang memalukan dan tabu. Namun, hal ini harus segera diperbaiki sebelum individu yang bersangkutan semakin terperosok pada gangguan kesehatan ini. Efek yang diberikan dari gangguan mental, meski perlahan, namun berangsur-angsur mematikan. Gangguan kesehatan mental dapat menyebabkan individu mengalami perubahan sikap serta perubahan tindakan yang cenderung mengarah ke arah negatif, bahkan dalam beberapa kasus, mampu menyebabkan tindakan bunuh diri dan tindakan melukai sesama.

Namun, bagaimana cara yang tepat untuk menangani hal tersebut? UK petra sendiri tentunya sudah memberikan banyak solusi mengenai hal ini. Nampak terlihat dari adanya Ethics Enrichment, pembekalan pada Welcome Grateful Generation, serta adanya fasilitas konseling di kampus, seperti PKPP. Stefani sendiri berujar bahwa fasilitas WGG dan EE adalah sarana bagi mahasiswa untuk lebih mengenal mahasiswa lainnya serta menciptakan support system di lingkungan sekitarnya. Dengan demikian, diharapkan apabila tiap individu memiliki masalah, mereka bisa meraih dan meminta bantuan lingkungan sekitarnya seperti teman-teman WGG dan EE.

Maka dari itu, tiap individu haruslah saling membantu dan saling mendengarkan masalah dari individu yang mengalami masalah seperti ini. Seperti yang dapat dilihat di kasus A, A terjangkit depresi akut dikarenakan ia merasa tidak punya siapapun yang bisa mendengarkan ceritanya. Hal inilah yang menyebabkan A mengalami depresi, maka dari itu, peran pendengar sangatlah penting.

Nah, Sobat GENTA, kini saatnya kita menjadi agen perubahan, jangan menganggap gangguan mental sebagai sesuatu yang tabu. Kini saatnya untuk mulai mendengar, dan mulai peduli. Your ten minutes to listen to their problem, matters a lot.

About the author /


Avatar