Debat Calon Ketua BEM UK Petra 2018/ 2019- Perubahan Ada di Tangan Kita!

Fotografer : Evandruce Filbert

Debat Calon Ketua BEM UK Petra 2018/ 2019- Perubahan Ada di Tangan Kita!

Oleh : Joana

Jumat (11/05/18) debat terbuka para calon ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Kristen (UK) Petra 2018/ 2019 berlangsung dengan seru sejak pukul 10:00- 15:00 WIB.Para mahasiswa dari berbagai jurusan tampak serius menyimak debat antara calon nomor 1, Clarence Rebeka, dan calon nomor 2, Dannaezar yang mengambil tempat di Auditorium W UK Petra.Debat calon ketua BEM kali ini dibagi dalam 5 sesi. Sesi pertama berupa pembacaan visi misi, sesi kedua adalah sesi pertanyaan oleh moderator, sesi ketiga yaitu debat antar calon, sesi keempat dan kelima yaitu sesi pertanyaan oleh dosen-dosen panelist dan oleh para mahasiswa yang hadir.Debat dibuka dengan pembacaan doa, nyanyian lagu Indonesia Raya, dan Himne Petra.

Usai pembukaan, sesi satu yang berupa pembacaan visi misi kedua calonpun dimulai. Clarence dengan visinya ‘From Values, with Integrity, Act for Nation’lebih menitik beratkan program kerjanya pada perbaikan nilai moral dan mentalitas mahasiswa, terutama para anggota BEM sendiri. Clarence percaya bahwa nilai-nilai Kristiani yang seharusnya mendasari segala kegiatan di UK Petra saat ini sudah mulai kehilangan signifikansinya. Padahal, menurut Clarence nilai-nilai yang baik dari dalam diri sendirilah yang nantinya akan memampukan kita untuk menjadi lebih berguna bagi bangsa dan negara. Clarence berharap BEM UK Petra dapat lebih berkontribusi bagi masyarakat ke depannya. Sementara itu, Dannaezar dengan visinya ‘Unite and Speak Up’ lebih menitik beratkan program-programnya pada kesatuan antar organisasi internal universitas maupun eksternal antar universitas. Dannaezar merasa bahwa sejauh ini BEM UK Petra masih kurang dalam menjalankan tugasnya sebagai penyalur aspirasi mahasiswa. Hal ini dikarenakan kurangnya rasa persatuan antar mahasiswa, masih banyak yang merasa enggan untuk menyampaikan pendapatnya pada BEM kampusnya sendiri. Selain itu, kedua calon sama-sama memasukan program pelatihan kepemimpinan dalam agenda kerjanya.

Memasuki sesi pertanyaan oleh moderator, suasana debat terasa semakin intens. Kedua calon saling memberikan solusi terbaik masing-masing mengenai cara untuk menangani banyaknya mahasiswa UK Petra yang bersikap apatis. Selain itu mereka juga membahas cara mempersiapkan mahasiswa-mahasiswa untuk dapat berprestasi dan berdampak bagi kehidupan masyarakat. Kedua calon mengakui bahwa saat ini jumlah mahasiswa UK Petra yang mau berjuang untuk berdampak dan berprestasi di luar kampus masih sangatlah sedikit jika dibandingkan dengan kampus-kampus lain di Indonesia. Mereka sepakat bahwa siap atau tidak, perubahan harus dimulai dari sekarang. “ Mahasiswa kita banyak yang apatis karena sifat individualisme masih sangat tinggi. Jika seluruh mahasiswa dapat bersatu dan memiliki visi yang sama, akan lebih banyak mahasiswa yang peduli dan aktif,” demikian ungkap Dannaezar. Di lain pihak, Clarence berpendapat bahwa mahasiswa- mahasiwa yang sudah aktiflah yang seharusnya menggerakkan mahasiswa-mahasiswa apatis agar mau berubah.

Dalam sesi ketiga yang merupakan sesi debat antar calon, kedua calon saling melempar pertanyaan dan menanggapi jawaban. Sesi ini berlangsung cukup seru dengan berbagai pertanyaan yang menarik dan jawaban-jawaban yang berkualitas. Pertanyaan- pertanyaan yang terlontar sebagian besar mengenai efektifitas mekanisme program calon lawan. Selanjutnya dalam sesi keempat, kedua calon dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan yang lebih rumit dari para dosen panelist, diantaranya yaitu mengenai persiapan kaderisasi, pertanggungjawaban anggaran dan fasilitas kepada Rektor UK Petra, serta strategi- strategi untuk mengedukasi mahasiswa- mahasiswa yang apatis. Suasanapun sempat menjadi haru ketika kedua calon menceritakan sosok-sosok teladan yang telah menginspirasi mereka selama ini.

Terakhir, kedua calon menanggapi pertanyaan-pertanyaan dari para mahasiswa yang hadir. Para mahasiswa tampak aktif melontarkan berbagai pertanyaan kepada para calon ketua BEM 2019/ 2019 hingga sesi dinyatakan berakhir. Berbagai pertanyaan mengenai kesiapan para calon, mekanisme program kerja, dan mengenai solusi atas masalah-masalah nyata yang kini sedang dihadapi para mahasiswa dapat terjawab dengan baik walau mungkin belum detil karena keterbatasan waktu yang ada. Semoga diselenggarakannya debat calon ketua BEM 2018/2019 ini dapat membantu para mahasiswa untuk menentukan pilihannya dengan bijaksana pada saat Pemilu Raya nanti.

Nah, bagaimana sobat GENTA? Setelah menyimak debat mereka, sobat GENTA mau pilih yang mana,nih? Jangan golput, yaa sobat GENTA!!!  Perubahan ada di tangan kita bersama!!!

About the author /


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Feature

Majalah Kampus di Ambang Keterpurukan
Posted in: Feature

Majalah Kampus di Ambang Keterpurukan Oleh: Veronica Maureen Sebanyak 1000 eksemplar majalah GENTA dicetak setiap edisinya yang seharusnya menjadi sumber pengetahuan baru bagi seluruh sivitas, tak terkecuali mahasiswa. Dan mungkin, sudut pandang paling tepat dalam menentukan keberhasilan pembuatan GENTA adalah dengan menilai sejauh mana informasi dan pengetahuan yang dituliskan mampu diterima oleh seluruh sivitas. Rendahnya […]

Read More