Bertukar Pengetahuan Konstruksi Indonesia-Australia Lewat ICST

Fotografer: Ferdiantio Jeremiah S

Bertukar Pengetahuan Konstruksi Indonesia-Australia Lewat ICST

Oleh: Alvin Ramasurya Wony’s

Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil (HIMASITRA) Universitas Kristen (UK) Petra mengadakan International Construction Study Tour (ICST) pada Senin (22/01/2018) hingga Minggu (04/2/2018). Kegiatan yang mengundang sepuluh mahasiswa dari University of New South Wales dari program studi (prodi) Construction Management and Property merupakan kegiatan untuk memperkenalkan dunia teknik sipil di Indonesia kepada mahasiswa asing. Adapun kegiatannya meliputi site visit, lecture, dan cultural activities.

Site visit merupakan kegiatan mengunjungi lima tempat konstruksi di Jawa Timur. Sesampainya di sana, peserta diberi penjelasan mengenai sistem konstruksi yang sedang terjadi. Untuk kegiatan site visit, UK Petra membuka pendaftaran untuk 5 mahasiswa prodi teknik sipil yang ingin mengikuti kegiatan ini di masing-masing tempat yang dikunjungi.

Lecture diadakan di Ruang Konferensi 3 Gedung W UK Petra. Kegiatan seminar yang berlangsung selama tujuh hari ini mengundang dosen dari prodi teknik sipil dan arsitektur UK Petra sebagai pembicaranya. Kesempatan mendaftar juga dibuka untuk kegiatan ini, sebanyak 20 peserta boleh datang dan mengikuti seminar secara gratis.

Cultural activities adalah kegiatan yang memperkenalkan budaya Indonesia kepada peserta ICST. Kegiatan dari cultural activities antara lain kelas membatik, kelas memasak masakan tradisional Indonesia, kelas menari, dan kelas bahasa Indonesia.

Mary dan Christopher

Mary Ann Gemzon dan Christopher Loukaitis adalah peserta dari ICST. Dari beberapa pilihan negara tujuan study tour yang disediakan sekolah mereka, Mary dan Chris memilih Indonesia sebagai tempat mereka berkunjung. Mereka tertarik mengunjungi Indonesia karena budayanya yang beragam. “Very lovely, the people are super nice and the culture is very different,” ujar Mary ketika ditanya GENTA tentang kesannya terhadap Indonesia.

Selama kunjungannya di Indonesia Mary dan Chris mengaku menemui berbagai tantangan, perbedaan bahasa menjadi tantangan terbesar bagi mereka. Mereka jadi sulit berkomunikasi dengan warga lokal, terutama saat berada di dalam taksi. Cuaca yang berbeda juga sempat menjadi perhatian mereka. Kedua mahasiswa yang sekarang memasuki kuliah tahun kedua itu menjelaskan bahwa udara yang lembab di Indonesia menyebabkan cuaca menjadi terasa lebih panas dari Australia.

Di akhir kunjungannya, Mary dan Chris mendapat tugas untuk menjelaskan perbandingan antara industri konstruksi yang ada di Australia dan Indonesia. Mereka menjelaskannya melalui presentasi yang diadakan di UK Petra pada Sabtu (03/02/2018) lalu. Mary dan Chris menceritakan bahwa ketertarikan mereka memasuki dunia manajemen konstruksi diawali dengan ketertarikan terhadap arsitektur. Kemudian, seiring dengan berjalannya waktu mereka juga tertarik dengan dunia bisnis dan manajemen. Mereka akhirnya menggabungkan keduanya dan memilih menekuni program studi Construction Management and Property.

Bagi Chris, bagian dari kunjungan yang paling menarik adalah sesi cultural activities. Mahasiswa yang baru pertama kali datang ke Indonesia itu paling menyukai sesi kelas bahasa. Sedangkan Mary menyukai sesi site visit terutama saat mereka mengunjungi lokasi erupsi Lumpur Lapindo dan Madison Avenue. Mereka berdua mengaku mendapatkan banyak pengalaman dari kunjungan mereka ke Indonesia.

“I got so much experience, became more culturally enriched, and have a greater understanding in international civil industry,” ujar Chris. Chris dan Mary mengaku berminat untuk kembali mengunjungi Indonesia jika diberi kesempatan.

About the author /


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Feature

Majalah Kampus di Ambang Keterpurukan
Posted in: Feature

Majalah Kampus di Ambang Keterpurukan Oleh: Veronica Maureen Sebanyak 1000 eksemplar majalah GENTA dicetak setiap edisinya yang seharusnya menjadi sumber pengetahuan baru bagi seluruh sivitas, tak terkecuali mahasiswa. Dan mungkin, sudut pandang paling tepat dalam menentukan keberhasilan pembuatan GENTA adalah dengan menilai sejauh mana informasi dan pengetahuan yang dituliskan mampu diterima oleh seluruh sivitas. Rendahnya […]

Read More