Bedah Buku dan Mengenal Henk Ngantung Bersama Obed Bima Wicandra

Fotografer: Edward Hartanto

Bedah Buku dan Mengenal Henk Ngantung Bersama Obed Bima Wicandra

Oleh: Alvin Ramasurya Wony’s

Ada yang berbeda dari suasana Perpustakaan Universitas Kristen (UK) Petra pada hari Jumat (16/03/2018). Terlihat banyak orang berkumpul dan mendengarkan seorang pembicara secara antusias di lesehan lantai 7 perpustakaan. Pembicara yang dimaksud adalah Obed Bima Wicandra,  dosen Program Studi (Prodi) Desain Komunikasi Visual (DKV) UK Petra yang juga merupakan penulis buku yang sedang dibicarakan.

Hari itu, Jurnal Mahasiswa UK Petra, Discerning, sedang mengadakan bedah buku yang berjudul “Henk Ngantung: Saya Bukan Gubernurnya PKI.” Bedah buku yang bertajuk “Pemimpin yang Disingkirkan” tersebut terbuka untuk umum dan merupakan salah satu rangkaian diskusi bulanan dari Discerning.

Beberapa dari sobat GENTA mungkin masih asing dengan nama Henk Ngantung. Jangan khawatir. Pada artikel kali ini GENTA akan menjelaskan siapa itu Henk Ngantung dan bagaimana Obed menuliskan kisah hidup dari tokoh ini.

Hendrick Hermanus Joel Ngantung atau yang lebih dikenal dengan nama Henk Ngantung adalah seorang seniman lukis besar yang hidup pada era awal kemerdekaan Indonesia. Aliran seni yang ia geluti adalah aliran realisme sosial, artinya Henk Ngantung melukiskan keadaan sosial yang sebenarnya terjadi di kalangan masyarakat. Henk Ngantung menggambarkan keadaan masyarakat yang saat itu masih menderita akibat perang. Selain itu, Henk Ngantung juga menggambarkan sketsa kejadian-kejadian penting selama proses kemerdekaan Indonesia. Hasil karya Henk Ngantung antara lain melukiskan Perjanjian Renville dan Perjanjian Linggarjati. Sayang sekali, banyak sketsa dari Henk Ngantung yang hilang pada masa penjajahan Jepang.

Tidak hanya melukis keadaan era kemerdekaan, Henk Ngantung juga ikut ambil bagian dalam pembuatan monumen-monumen terkenal di Indonesia. Diantaranya, dia menjadi juri dalam pembangunan  Monumen Nasional (Monas). Artinya Henk Ngantung menjadi orang yang menentukan bangunan mana yang akan menjadi Monas. Henk Ngantung juga ambil bagian dari pembangunan Monumen Selamat Datang yang terletak di Bundaran HI DKI Jakarta.

Hidup Henk Ngantung yang penuh lika-liku inilah yang banyak menjadi bahasan dalam buku Obed. Henk Ngantung pernah dituduh berhubungan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) karena ia merupakan sekretaris Lembaga Kebudayaan Rakyat pada saat organisasi besutan tokoh-tokoh PKI tersebut pertama dibentuk. Berbeda dengan seniman lainnya, Henk Ngantung pernah menjadi gubernur DKI Jakarta pada tahun 1964. Tepatnya 17 Oktober 1964, Henk Ngantung resmi diangkat menjadi gubernur DKI Jakarta. Akan tetapi, karirnya sebagai orang nomor satu di DKI Jakarta tidak bertahan lama. Pada 14 Juli 1965 Henk Ngantung diberhentikan dengan hormat sebagai gubernur Jakarta oleh Bung Karno.

Obed mengenal Henk Ngantung dari risetnya tentang gubernur-gubernur yang pernah menjabat di DKI Jakarta. Obed yang awalnya tidak mengenal Henk Ngantung menjadi tertarik dengan kisah hidupnya karena menurut Obed, Henk Ngantung adalah salah satu seniman yang bisa seorang seniman yang mampu menuangkan karyanya menjadi suatu bentuk yang riil.

Dalam menulis bukunya, Obed mengaku menemui beberapa tantangan, tetapi tantangan terbesar menurutnya adalah sulitnya mencari sumber yang memuat kisah Henk Ngantung. Dalam pencariannya, Obed menemukan bahwa media massa pada era tersebut sudah sangat langka. Namun tantangan yang dihadapi Obed tidak menyurutkan niatnya untuk terus menulis. Dosen DKV UK Petra tersebut memiliki prinsip bahwa sejarah tidak hanya terdiri dari hitam dan putih. Sejarah adalah sebuah kisah yang bisa diceritakan, bukan hanya terdiri dari benar dan salah saja. Menurut Obed, kiprah Henk Ngantung haruslah dikenang oleh masyarakat luas dan untuk mengenangnya pertama-tama kita harus tahu siapa itu Henk Ngantung.

Obed berharap bahwa kita bisa meneladani rasa cinta tanah air yang dimiliki oleh Henk Ngantung. “Henk Ngantung mencurahkan rasa cinta tanah airnya dengan melakukan apa yang bisa ia lakukan. Kita juga harus mencurahkan rasa cinta kita terhadap Indonesia dengan cara kita masing-masing,” kata Obed

About the author /


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Feature

Majalah Kampus di Ambang Keterpurukan
Posted in: Feature

Majalah Kampus di Ambang Keterpurukan Oleh: Veronica Maureen Sebanyak 1000 eksemplar majalah GENTA dicetak setiap edisinya yang seharusnya menjadi sumber pengetahuan baru bagi seluruh sivitas, tak terkecuali mahasiswa. Dan mungkin, sudut pandang paling tepat dalam menentukan keberhasilan pembuatan GENTA adalah dengan menilai sejauh mana informasi dan pengetahuan yang dituliskan mampu diterima oleh seluruh sivitas. Rendahnya […]

Read More