25 Jam Berkomentar: KaHimque Panutanque

KaHimque Panutanque

Oleh: Vincentius Ivan Patricio

Akrabkah kalian dengan istilah Lembaga Kemahasiswaan-Keluarga Besar Mahasiswa (LK-KBM) ? Kalau masih asing, mungkin kata Himpunan Mahasiswa (HIMA) lebih dekat dengan telinga setiap kita. Sebuah organisasi penuh dengan makhluk-makhluk unik, dan rekat dengan cap anak yang hobi pulang waktu maling berangkat kerja.

Saya ingin menceritakan pandangan saya tentang LK- KBM ini. Kita ini bersama- sama masuk ke kampus biru ini waktu Welcome Grateful Generation (WGG), tiba- tiba teman kita ada yang tergabung dalam kepanitiaan, lalu teman kita ini hilang dan mulai sok sibuk dengan organisasi barunya. Kita sendiri merasakan banyak kepanitiaan kita jalani dengan, asalkan dapat Satuan Kredit Kegiatan Kemahasiswaan (SKKK) cukup lah. Kemudian kita direkrut menjadi koordinator di sana koordinator di sini dan orangnya itu-itu saja. Atau malah kita ditolak, dan ribet harus mencari kepanitiaan sana- sini karena kepanitiaan HIMA tidak ada yang bisa kita masuki. Kemudian kita menerima, “ah ya sudah, panitia memang begitu” atau “Wah, menyenangkan ya ikut panitia, capek tapi seru, bisa baper-baper juga waktu rapat evaluasi terakhir.” Kalimat mana yang lebih akrab di benak anda? Tapi narasi lucu ini cukup sampai disini.

Cerita ini dilanjutkan dengan perjalanan teman anda yang sok sibuk ini. Marilah kita bayangkan, dia tahu apa yang ingin dia lakukan setelah lulus, lalu masuk kedalam HIMA, dia bertemu dengan pengalaman- pengalaman yang mengubahnya. Dia akan meminum banyak pemikiran, prinsip yang diturunkan dari Kepala Departemennya dan KaHim-nya (Kahim), atau bahkan mungkin isu-isu hangat, favorit insan-insan impulsif. Teman kita yang imut- imut ini tiba- tiba menerima banyak hal, konflik di dalam diri akan membentuknya. Kemudian waktu berlari begitu kencang seolah mengejar toleransi keterlambatan 15 menit. Yah, satu tahun tidak terasa, tiba-tiba teman kita ini orasi, kita coblos di hidungnya, dan jadilah dia sang KaHim ber-hidung bolong. Berbagai standar, aturan, dan kewajiban-kewajiban tiba-tiba harus dihadapi sang KaHim berhidung bolong ini.

Semua perubahan dan tuntutan yang memperbanyak tarikan napas dalam dan gerakan mengelus dada ini tentu merubah teman kita. Kemudian, ia menyusun rencana yang alurnya sudah tertebak. Oh, di semester ganjil ini kepanitiaannya bakal ada Bank Panitia dulu, lalu ada Pra-BOM (Bulan Olahraga Mahasiswa), setelah itu akan ada seminar dan workshop, sudah terbayang acara – acara rutin tersebut di benak anda? Cukup familiar, ya. Sebenarnya, tidak ada satupun kewajiban membuat seluruh acara ini sama dengan tahun lalu, bahkan setiap tahun. Kegiatan yang berbeda sangat diharapkan untuk dibuat, bahkan menghilangkan satu atau dua acara pun, itu tidak ada larangan. Kecuali tentu saja acara rutin seperti bank panitia dan beberapa acara wajib universitas yang harus diadakan setiap tahunnya. Selebihnya, teman anda bisa berkreasi.

Muncullah pertanyaan, lalu kenapa tidak kita buat kegiatan yang berbeda agar tidak bosan dan kemahasiswaan bisa lebih seru? KaHim kita ini masih butuh beradaptasi dengan aturan-aturan yang tidak pernah dikenalnya, harus masuk ke padang yang lebih luas. Banyaknya aturan, esensi, nilai, kode etik, dan prinsip baru yang diterima begitu cepat tentu membingungkan. Juni, sebulan dua bulan setelah kita coblos dia, KaHim kita sudah harus menyetorkan rencana kegiatan yang segudang itu. Baru belajar merangkak menjadi KaHim dengan trial and error ketika memimpin HIMA-nya. Sedangkan, Anda sudah harus mulai mendapatkan wadah berkegiatan pada sekitar September. Saya katakan, punya visi atau tujuan yang dapat direalisasikan untuk HIMA-nya sendiri saja sudah untung-untungan dapat terlaksana, apalagi untuk inovasi.

Barangkali anda berkata, “Ya itu kan masalahmu, kamu kita coblos supaya bisa melakukan tugas untuk mewadahi kita. Katanya KaHim (Kahim) diatas rata – rata mahasiswa.” Menurut saya, hanya satu diantara 100 orang yang dapat menciptakan sesuatu yang besar dalam waktu periode kerja satu tahun tersebut. Batas waktu kerja kita hanya satu tahun, di semester genap ini, KaHim sudah mencari calon untuk melanjutkan kepemimpinannya dan mementori dia, setelah itu sudah pemilihan. Dia baru duduk dan baru bisa memahami kondisi lapangan Kemahasiswaan yang cukup membingungkan ini setelah jalan setengah periode. Lalu setengah periodenya dihabiskan kaderisasi calon yang baru, apa tidak habis waktunya?

“Berarti harus dua periode dong kalau mau berdampak, ya maju lagi saja, nanti kita pilih.” Mari kita coba lihat apa pandangan mahasiswa jika ada KaHim yang menjabat 2 kali. Lalu dari KaHim sendiri pun memikirkan, bagaimana dengan angkatan di bawahku? Mereka tidak mendapat kesempatan belajar. Malah mengakibatkan HIMA bagus untuk satu periode itu dan kembali ke siklus awal waktu periode berikutnya. Dapat kita bayangkan begitu banyak faktor dan dilema hanya untuk mengurus KaHim berdampak dan tidak berdampak.

Lalu, apa yang dapat kita lakukan di pihak kita? Kita harus tahu tujuan kita apa. Apa yang menjadi target, tujuan kita kedepannya setelah kuliah, menyiapkan rencana- rencana strategis untuk melangkah kesana. Persiapan apa yang harus kita ambil di jurusan kita agar masa depan kita dapat berada di tingkat selanjutnya? Ketika kita tahu apa yang kita butuhkan mencapai tujuan, itu sudah sangat baik. Kita dapat menyampaikan kebutuhan kita kepada HIMA atau BPMF yang membawahi HIMA, atau ke BEM, UKM, MPM, PERSMA, dan KOPMA. Utarakan kebutuhan anda untuk persiapan masa depan diri. Semua itu agar kegiatan-kegiatan yang diadakan efektif dan mendukung persiapan kita sendiri untuk masa depan yang lebih baik. Bukankah LK-KBM ada dari, oleh, dan untuk mahasiswa?

Saya setuju bahwa mahasiswa harus bersuara lantang. Bukankah ada kekuatan di balik suara mahasiswa? Karena sesungguhnya itulah jiwanya mahasiswa. Dari sisi pandang yang saya ambil, inilah cara baru mahasiswa bersuara. Sebuah evolusi dari perkembangan zaman. Sekarang kita akan membangun suara mahasiswa yang penuh dengan tujuan dan kreativitas. Sehingga “suara mahasiswa” akan diingat, terlebih diperhitungkan, karena kita ini yang membuatnya kuat.

Saya yakin mahasiswa yang bersuara kepada kemahasiswaan, dapat melakukan perubahan -perubahan besar, bahkan dari hal-hal kecil sekalipun. Saya percaya, angkatan Anda cukup pintar, cukup mengerti, kalian tidak perlu terus mencari konfirmasi dari lingkungan. Apa salahnya menjadi beda? Apa yang kita butuhkan adalah menggali di dalam diri, gusar dengan realita.

Kiranya apa yang saya tulis disini kurang berfaedah, saya menunggu artikel anda yang lebih berfaedah.

Tuhan Yesus memberkati.

About the author /


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Feature

Majalah Kampus di Ambang Keterpurukan
Posted in: Feature

Majalah Kampus di Ambang Keterpurukan Oleh: Veronica Maureen Sebanyak 1000 eksemplar majalah GENTA dicetak setiap edisinya yang seharusnya menjadi sumber pengetahuan baru bagi seluruh sivitas, tak terkecuali mahasiswa. Dan mungkin, sudut pandang paling tepat dalam menentukan keberhasilan pembuatan GENTA adalah dengan menilai sejauh mana informasi dan pengetahuan yang dituliskan mampu diterima oleh seluruh sivitas. Rendahnya […]

Read More