Cintakah kita terhadap Indonesia?

IMG_4306_1

Photo taken by Nikita Limantara

Cintakah kita terhadap Indonesia?

By: Bethari Putri Hyang Taya

Berulang kali kebudayaan Indonesia diklaim oleh negara lain. Berulang kali pula,
rakyat Indonesia menyatakan kegeramannya atas budaya bangsa yang seenaknya diklaim.
Berulangkali pula pemerintah mengantisipasi agar kebudayaan bangsa tidak lagi diklaim
oleh negara tetangga. Memang negara ini, Indonesia, masih satu rumpun dengan negara-
negara tetangga, namun apakah itu menjadi salah satu alasan untuk berbagi kebudayaan?
Jika ditelusuri lebih jauh, kita rakyat Indonesia, sekilas menyatakan kecintaan terhadap
Indonesia ketika ada warisan budaya yang telah diklaim oleh Negara lain. Apakah harus
selalu seperti itu? Hal inilah yang menjadi dasar diadakanya seminar nasionalisme oleh
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Kristen (UK) Petra.

Pada hari Jumat, 20 November 2015 yang lalu telah diadakan sebuah seminar yang
bertema “Berikan Dirimu untuk Indonesia”. Seperti pada latar belakang yang telah
dijelaskan di atas, pembicara pertama yaitu Aniendya Christianna, S.Sn., M.Med.Kom.
menjelaskan pada mahasiswa bahwa kita sebagai generasi penerus bangsa mempunyai
kaitan besar dengan jiwa nasionalisme. Anien bercerita banyak tentang sejarah pemuda
Inonesia dalam perjuangan mereka untuk memerdekakan Indonesia.

IMG_4328_1

Photo taken by Nikita Limantara

Kecintaan kita terhadap Indonesia tidak selalu harus ditunjukkan dengan mengikuti
Upacara, parade perjuangan, membaca pembukaan UUD ’45 atau menghafal Undang-
Undang Dasar. Kita sebagai rakyat Indonesia harus menyatakan dengan gamblang bahwa
kita mencintai bangsa Indonesia. Bukan karena kita lahir di tanah air ini, namun karena
memang darah kita mengalir darah Indonesia. Ada banyak cara bagi kita kaum muda untuk
menunjukkan jiwa nasionalisme kita. Seperti bangga memakai batik dan menghargai produk
Indonesia.

Hal paling mudah yang sebenarnya bisa dilakukan oleh masing-masing kita adalah
dengan menghidupi Sumpah Pemuda, terutama pada ayatnya yang ketiga, “KAMI POETRA
DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA”.
Berbicara dengan memakai bahasa Indonesia yang baik dan benar, hal mendasar yang
sering kali dilupakan oleh rakyat. “Seringkali kita temui mahasiswa yang berbicara kepada
dosen menggunaka bahasa-bahasa texting atau bahasa yang kita gunakan pada saat SMS,”
ujar Anien. “Parahnya lagi adalah ketika mahasiswa sedang seminar lalu presentasi
menggunakan bahasa Indonesia yang tidak baku. Contohnya saja, “Jadi gini bu.” Nah, inikan
salah satu contoh pemakaian bahasa Indonesia yang salah. Lha kan saat itu merupakan
acara yang formal,” tukas Anien.

Nah Sobat GENTA, sudahkah kalian menunjukkan jiwa nasionalisme? Gampangnya,
sudahkah kalian berbahasa Indonesia dengan baik dan benar?

About the author /


Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *